“Ini karena industri yang dibawa oleh pemerintah hari ini adalah industri yang padat modal tidak padat karya. Misalnya saja tambang di Morowali, disana itu investasinya besar tapi hanya melibatkan sedikit tenaga kerja kita dan jelas-jelas merusak lingkungan, paparnya.
“Nah,kami ingin ke depan yang kita undang ke Indonesia adalah investasi yang padat kerja, lalu kemudian si industri ini mau bekerja sama dengan lembaga pendidikan kita,” cetusnya.
Sehingga tenaga kerja yang diserap, sambung Anjak adalah tenaga kerja lokal yang telah disiapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Kemudian ketiga adalah kemudahan pelayanan dasar.
“Salah satunya adalah kesehatan. Capek lah pakai kartu-kartu padahal cukup dengan KTP saja sudah tidak perlu kartu lain lagi. Kami ingin membuat rakyat kita lebih mudah mengakses pelayanan dasar, salah satunya yang penting adalah pendidikan dan kesehatan,” tandasnya. (ris)






