Menurut pengamat politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Jokowi dan Gibran sepertinya menginginkan sesuatu dengan cara yang menuai reaksi publik tersebut. Keinginan tersebut dianggap penting dalam urusan politik Tanah Air.
“Mengapa hal ini penting bagi Pak Jokowi? Untuk satu alasan yang sangat kuat menempatkan daya tawar politik tetap stabil. Dengan begitu, daya jelajah pengaruh politik Pak Jokowi tetap terjaga dan dengan sendirinya akan menjaga posisi politik Gibran,” jelasnya.
“Singkatnya, keberadaan Gibran sebagai wapres harus tetap dalam posisi tawar politik yang kuat,” demikian Ray Rangkuti.(*)






