Saiful menilai situasi tersebut dapat memperkuat narasi bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh besar terhadap berbagai institusi negara. “Narasi bahwa Jokowi masih sakti mandraguna justru semakin menemukan panggungnya di situasi seperti ini,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya yang muncul apabila publik mulai meragukan independensi aparat penegak hukum. “Jika persepsi ini terus menguat di publik, maka kepercayaan terhadap independensi aparat hukum bisa runtuh pelan-pelan. Negara hukum berubah jadi sekadar slogan, sementara praktiknya dikendalikan oleh figur yang seharusnya sudah berada di luar lingkar kekuasaan formal,” jelasnya.
Dalam pandangan Saiful, kondisi ini juga dapat berdampak terhadap persepsi publik mengenai posisi Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan pemerintahan. “Dalam konteks ini, posisi Prabowo menjadi sangat rentan,” pungkasnya.(*)






