JAKARTA-– Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Daddy Rohanady menilai kasus dugaan peluru nyasar, apabila ditafsirkan oleh setiap orang hasilnya akan beda. Terlebih peluru yang diduga nyasar itu menimpa rekan satu partainya di DPR RI Wenny Warouw.
“Kalau orang berpikir tafsir jadi rupa-rupa, ada yang bilang teror misal. Kalau teror masa sih sampe gitu-gitu amat. Apa perlu? Apa cuman buat psywar (Psychological Warfare) aja, sampe separah itu kah?” kata Daddy saat dihubungi RMOLJabar (Grup koran ini) Selasa (16/10).
Akan tetapi, kata Daddy, kasus dugaan peluru nyasar yang juga menimpa anggota Komisi III Fraksi Partai Golkar Bambang Heri Purnama dianggap saja benar demikian.
Pasalnya, berdasarkan keterangan kepolisian dan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, peluru berasal dari lapangan tembak Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) yang berada di samping Kompleks Parlemen.
“Mungkin benar orang lagi latihan tembak, tapi nyasar. Kan biasa, kalau latihan nembak yah nyasar. Cuma hebatnya nyasarnya tinggi. Sementara dianggap aja nyasar,” ucap Daddy.
Sebelumnya, peluru nyasar mengenai dua ruangan anggota DPR di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (15/10). Dua ruangan tersebut yaitu, ruangan 1313 milik anggota Komisi III Fraksi Partai Golkar Bambang Heri Purnama dan ruangan 1601 milik anggota Komisi III dari Fraksi Partai Gerindra Wenny Warouw.
Menurut kesaksian Wenny, kejadian terjadi sekitar pukul 14.30 WIB hingga 14.45 WIB. Saat itu ia tengah menerima dua orang tamu di ruangannya, yaitu Anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra Heski Roring dan AKBP Ronald.
Tiba-tiba, terdengar suara berdesing yang diikuti bunyi kaca pecah. Setelah itu peluru juga terlihat menembus plafon ruangan. Wenny menyebutkan, kejadian tersebut terjadi begitu cepat. “Kita bertiga mau ngobrol, kacanya meledak, lihat ada pecahan, kemudian ada bocor plafon, saya disuruh tiarap,” terangnya.
(feb)



