“Aneh memang, maksud baik tak selalu dianggap baik. Niat baik tak selalu ditangkap dengan baik. Maka, mungkin ini isyarat dalam perjuangan bahwa kadang keinginan baik kita mesti dinomorduakan oleh kebenaran. Kita harus selalu bersikap benar,” paparnya.
Ia berujar, nampaknya pimpinan akan melakukan eksekusi besar-besaran kepada yang berseberangan dan berbeda pandangan. Mestinya kata dia, di musim perang, situasi ini memerlukan konsolidasi dan menggalang mobilisasi.
“Padahal ini waktunya mengerahkan pasukan dan siapapun yang mau berperang. Tapi, malah di dalam ada yang memisahkan barisan dan mereka memproduksi istilah OSIN untuk orang sini dan OSAN untuk yang mereka yang dianggap melawan pimpinan partai. Orang sana,” sebut politisi asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.
Sebagai kader, Fahri mengaku sangat mencemaskan kultur baru dalam tubuh PKS sekarang, yang tiba-tiba suasananya mencekam, tegang dan seperti ada permusuhan.
Karena, pimpinan mengaktifkan patroli dan mengecek loyalitas setiap orang. “Ini bukan kultur berpartai apalagi demokrasi. Yang bermasalah pimpinannya, partai hanya penanggung beban pimpinannya,” cetusnya.
Tapi, lanjut Fahri lagi, gara-gara pimpinannya gila hormat, lama-lama suatu partai bisa rusak. Apalagi dengan berkembangnya budaya feodal dan ABS (Asal Bapak senang), bisa bubar PKS oleh pemilu.





