Retno menyebutkan, kemungkinan ada dua faktor yang menyebabkan kejadian murid melakukan kekerasan terhadap guru. Pertama disebabkan karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun sekolah.
Biasanya sikap anak seperti itu, ada pengaruh kuat dari pola asuh di rumah. Bisa juga karena siswa sudah kecanduan game online yang mengandung unsur kekerasan misalnya, sehingga anak jadi tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dengan di dunia nyata.
Terkait faktor pertama ini, tentu saja dibutuhkan assessment psikologis terhadap ananda untuk mencari faktor penyebab yang bersangkutan berperilaku agresif seperti dalam video tersebut.
Kedua, bisa saja berasal dari gurunya. Seperti rendahnya kompetensi paedagogik guru, terutama dalam penguasaan di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan dan menantang kreativitas serta minat siswa.
Manajemen penguasaan kelas diantaranya adalah bagaimana guru mengatasi kelasnya dengan karakter siswa yang bermacam-macam.
“Kemampuan manajemen penguasaan kelas perlu dilatih dan hal ini merupakan tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud),” tegas Retno.
Itu sebabnya menurut Retno, rehabilitasi terhadap siswa penting dilakukan agar (siswa) belajar dari kesalahan, dan mau memerbaiki diri.
(esy/jpnn)






