Salah satu wujud nyata dari apresiasi terhadap Islam di Jepang adalah dengan dibangunnya tempat salat atau musala di beberapa fasilitas publik.
“Saat itu, saya beri saran ke stafnya Wali Kota Sendai. Bandaranya kan sudah level internasional, masak tidak ada musalanya. Ternyata, tidak sampai 2 bulan setelah saya sampaikan, musala itu sudah dibangun,” kata Adam.
Selain kedisiplinan, birokrasi di Jepang diakui Adam sangat baik. Tidak hanya di pemerintahan, tapi juga di lingkungan kampus. “Aturan itu bisa ada kelonggaran, sepanjang bukan untuk dilanggar. Jadi memang kita tidak dipersulit,” ucap Adam.
Oleh karena itulah, banyak diaspora Indonesia di Jepang yang ragu untuk pulang ke tanah air. Selain masalah kesenjangan kesejahteraan, banyak kakak kelas Adam yang mengeluhkan rumitnya birokrasi di Indonesia. “Di sana, dana riset melimpah dan prosedurnya tidak rumit.
Sehingga, akademisi bisa lebih fokus mengurusi riset dan mengajar,” tutur Adam.
Meski demikian, sedari awal Adam sudah mantap untuk pulang ke Indonesia setelah merampungkan studinya. Terlebih, ia menilai, selama beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mulai memberikan perhatian lebih untuk dunia riset dan pendidikan tinggi.
“Saya tidak takut untuk pulang ke Indonesia, karena ibu saya kan dosen di FKG Unej. Jadi, saya paham lah, gaji dosen setidaknya masih cukup untuk makan,” pungkas Adam sembari tersenyum.
(jr/ad/ras/das/JPR)



