“Di Jepang, pecinta manga tidak terbatas usia. Banyak orang dewasa yang suka manga. Di sana juga tidak surut trennya,” ujar pria yang semasa SMA aktif di Pencak Silat Merpati Putih ini.
Adam akhirnya mulai merantau di Jepang sejak tahun 2008. Namun, dia tidak langsung kuliah, melainkan harus menjalani kursus intensif bahasa dan budaya Jepang selama setahun di Center for Japanese Language and Culture, Universitas Osaka. Saat itu, ia minim kemampuan berbahasa Jepang.
“Setelah dites akhir, saya peringkat nomor dua dari bawah. Total ada 50 mahasiswa dari berbagai negara. Untungnya, Tohoku tidak terlalu ribet mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang,” tutur Adam.
Dari Osaka, Adam akhirnya pindah ke Sendai untuk menjalani studi Fisika Murni di Universitas Tohoku.
“Sendai ini sebenarnya bukan kota besar, mungkin seperti Jember, tapi lebih ramai sedikit lah. Sekitar 2 jam dari Tokyo kalau naik shinkanzen,” jelas putra pasangan Prawoto dan Sulistyani ini.
Sempat kesulitan mempelajari bahasa Jepang, Adam memberanikan diri untuk banyak mempraktikkan bahasa Jepangnya.



