Dari Jepang pula, Adam berkesempatan menunaikan ibadah haji pada tahun 2013 bersama sang istri. “Karena kalau berangkat dari Jepang kan enak, tidak usah antre. Kebetulan dapat diskon juga. Pemilik travelnya orang Mesir yang berbisnis di Jepang,” tutur Adam.
Sejak pulang dari haji itulah, Adam mulai memanjangkan jenggotnya hingga saat ini. Menariknya, Adam merasakan perbedaan cara pandang masyarakat antara di Indonesia dengan di Jepang, tentang jenggotnya.
“Di Jepang, saya tidak terlalu ditanya orang tentang jenggot saya. Paling cuma apakah semua muslim wajib berjenggot? Saya jawab tidak. Di sana juga sudah biasa orang berjenggot walau tidak semuanya muslim,” jelas Adam.
Pengalaman berbeda dialami sejak Adam pulang ke Jember beberapa minggu terakhir. Kebetulan, dia juga jarang pulang ke Jember. “Orang lebih banyak bertanya tentang jenggot saya ketimbang studi saya di Jepang,” ujar Adam sembari tersenyum.
Sebagai minoritas muslim, Adam tidak merasakan diskriminasi selama tinggal di Jepang. Bahkan, sejak tiga tahun terakhir, Adam merasakan masyarakat di Sendai banyak yang mengapresiasi dan ingin memahami agama Islam. “Tahun 2020 kan mereka jadi tuan rumah olimpiade.
Makanya, mereka mulai antisipasi kedatangan wisatawan muslim dengan banyak belajar tentang Islam,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini.



