NASIONAL

Zainollah Ahmad, Guru Penulis Sejarah Lokal Raih Kepuasan Batin, Meski Royalti Tak Seberapa

×

Zainollah Ahmad, Guru Penulis Sejarah Lokal Raih Kepuasan Batin, Meski Royalti Tak Seberapa

Sebarkan artikel ini

Sebagai seorang guru, semangat dan produktivitas menulis Zainollah Ahmad barangkali bisa disejajarkan dengan akademisi di kampus. Di tengah historiografi nasional yang masih Jakartasentris, Kepala SMP PGRI 1 Rambipuji ini tetap semangat mengkaji dan menulis sejarah lokal. Meski keuntungan materi yang didapat tidak sebanding dengan pengorbanan.

———————

Bank bjb Tandamata

Salah satu kritik konstruktif yang berkembang dalam pengembangan keilmuan sejarah di Indonesia adalah kesan bahwa penulisan sejarah nasional masih bernuansa Jawa-sentris, lebih khususnya Jakarta-sentris.

Sejarah nasional bangsa Indonesia hanya ditulis dalam perspektif pusat-pusat kekuasaan tertentu dan mengabaikan perspektif daerah yang dianggap pinggir.

Kesan itu pula yang dirasakan oleh Zainollah Ahmad, seorang guru sejarah yang juga menjadi penggiat sejarah lokal di Jember. Sehari-harinya, Zainollah bekerja sebagai guru IPS dan Kepala SMP PGRI 1 Rambipuji.

Namun, di luar rutinitas itu, Zainollah juga aktif mengembangkan kajian sejarah berbasis lokal. Melalui komunitas Bhattara Saptaprabhu yang ia dirikan bersama beberapa rekannya seperti Bambang Sutedjo, Teguh Irawan, Ria Sukariyadi, M. Heru Santoso, M.Nur Edris, dan M. Soleh Mudzoffar.

“Nama itu kami ambil, mengacu pada semacam dewan pertimbangan kerajaan Majapahit. Berdiri pada awal Mei 2012, komunitas itu diinisiasi oleh guru-guru ilmu sosial yang ingin mengembangkan kegiatan positif, khususnya di bidang sejarah,” jelas Zainollah.