NASIONAL

Zainollah Ahmad, Guru Penulis Sejarah Lokal Raih Kepuasan Batin, Meski Royalti Tak Seberapa

×

Zainollah Ahmad, Guru Penulis Sejarah Lokal Raih Kepuasan Batin, Meski Royalti Tak Seberapa

Sebarkan artikel ini

Pengalaman itu juga yang ia rasakan saat mengirimkan satu judul bukunya ke sebuah penerbit besar. “Sampai sekarang, sudah setahun lebih, masih belum proses review.

Karena masih harus antri katanya. Sebenarnya mau saya cabut dan alihkan ke penerbit lain, tapi ditahan dulu oleh penerbit tersebut,” ungkap Zainollah.

Bank bjb Tandamata

Setelah bukunya terbit, Zainollah mendapatkan berbagai macam respons dari banyak kalangan. “Meski banyak yang bertanya, kok yang menulis malah orang yang bukan asli Jember,” tutur pria kelahiran Kepulauan Kangean, Sumenep ini.

Salah satu respons paling berkesan yang dirasakan Zainollah adalah ketika ada seorang koreografer perempuan yang memborong bukunya untuk dibagikan kepada para penari.

Sang koreografer ketika itu sedang mempersiapkan tarian massal yang menggambarkan sejarah kedatangan Raja Hayam Wuruk ke Jember. “Saya tidak tahu persis diborong berapa. Yang saya ingat pementasan tarinya pada tahun 2016 di alun-alun, di hadapan bupati,” kenang Zainollah.

Untuk menulis sebuah buku sejarah secara serius –lazimnya disebut buku babon atau induk, butuh pengorbanan ekstra. Zainollah membutuhkan waktu setidaknya enam bulan untuk studi literatur. Dia harus bolak-balik ke berbagai perpustakaan.