Diakui Zainollah, selama ini sejarah lokal sering diabaikan, tidak saja oleh kalangan akademisi dan pemerintah, tetapi juga oleh penerbit buku.
Hal itu ia rasakan kala proses menawarkan buku karyanya ke berbagai penerbit. “Berkali-kali naskah buku saya ini ditolak oleh penerbit mayor karena dianggap tidak marketable.
Beruntung, masih ada penerbit mayor yang mau objektif menerima dan akhirnya menerbitkan buku karya saya,” ujar alumnus IKIP PGRI Jember ini.
Dalam dunia penerbitan, terdapat dua kategori yakni penerbit mayor dan indie. Untuk penerbitan mayor –dengan beberapa opsi kerja samanya-, naskah dari penulis akan melewati seleksi yang umumnya cukup ketat.
Sedangkan untuk penerbit indie, hampir pasti naskah akan diterbitkan karena penulislah yang harus membiayai segala biaya penerbitannya.
“Saya memilih jalur yang pertama meski idealis. Karena naskah buku saya akan melalui seleksi alamiah, jadi benar-benar diterbitkan karena kualitas,” tutur pria yang tinggal di Bangsalsari ini.



