“Setiap buku yang saya tulis butuh referensi minimal sebanyak 200 sumber. Kadang, juga harus beli buku dalam jumlah banyak. Makanya, sebenarnya bisa di bilang tekor, tidak sebanding dengan royalti yang akan kita dapat,” tutur bapak tiga anak ini.
Perjuangan lainnya, Zainollah juga harus mengadakan eksplorasi dan meneliti ke situs-situs sejarah yang selama ini belum banyak diungkap. Untuk hal ini, ia kerap melakukannya bersama teman-teman di komunitas Bhattara Saptaprabhu.
“Itu juga pengalaman yang sangat berkesan buat saya, datang ke lokasi-lokasi bersejarah yang belum pernah terungkap. Saya merasakan, seolah ada yang menuntun kami ke arah sana,” tutur Zainollah.
Meski mengaku tidak percaya klenik atau hal-hal berbau mistik, Zainollah mengaku mendapatkan semacam kemudahan yang tidak bisa dirasionalkan. “Seolah-olah nenek moyang menuntun, bahwa situs sejarah sudah seharusnya diungkap,” kenang Zainollah.
Zainollah mencontohkan, saat sedang mencari sumur terakota peninggalan Kerajaan Majapahit di Jember. Tiba-tiba pada November 2014, ia mendapat informasi bahwa ada petani yang menemukannya di Desa Jatiagung, Gumukmas. “Saat itu, saya meluncur ke sana bersama teman-teman. Itu yang membuat data saya akurat,” ujar Zainollah.
Seringkali, Zainollah juga harus membeli bukunya sendiri untuk dibagikan kepada orang-orang tertentu. Sejauh ini, ia belum menerima respons yang sangat ia harapkan: kritik.



