Harapannya, masyarakat bisa sadar bencana sejak dini serta dapat menekan angka korban jiwa.
“Di daerah kawasan tadi betul-betul harus diperkuat mitigasinya. Baik mitigasi struktural maupun mitigasi non struktural. Sehingga masyarakat siap mengantisipasi,” kata Sutopo.
Berdasarkan catatannya, tsunami di Selat Suda sudah pernah terjadi pada 416 M, Oktober 1722, 24 Agustus 1757, 4 Mei 1851, 9 Januari 1952, 27 Agustus 1883.
Selanjutnya juga terjadi lagi pada 10 Oktober 1883, Februari 1884, Agustus 1889, 26 Maret 1928, 22 April 1958, dan terakhir 22 Desember 2018 kemarin.
Seperti tsunami yang baru terjadi Sabtu lalu akibat erupsi, pada 416, 1883, dan 1928 tsunami juga terjadi akibat letusan Gunung Krakatau.
Pada 1883, letusan Krakatau bahkan menarik perhatian dunia karena material serta awan panas yang dikeluarkan hingga ke luar Indonesia.
Saat itu, jumlah korban yang jatuh tercatat sedikitnya mencapai 36.000 jiwa meninggal dunia.
Sementara, sampai dengan Selasa (25/12) pukul 14.00 WIB, jumlah korban meninggal tsunami Selat Sunda sudah mencapai 429 orang meninggal dunia.
Selain itu, terdata sebanyak 154 orang hilang, 1.485 orang luka-luka, dan 16.082 mengungsi.
Tsunami tersebut juga memporak-porandakan 882 unit rumah, 73 hotel dan vila rusak, 60 warung, 434 perahu dan kapal, serta satu dermaga.





