Mereka tidak bisa mengendalikan dirinya. Pikiran negatif pasien harus dilawan dengan pikiran dan cara positif secara perlahan-lahan, sehingga bisa diterima dengan baik.
Perlakuan untuk mereka tidak bisa disamakan dengan orang waras ,”kata Nasir.
Nasir menuturkan, pasien yang sudah sembuh dan pulang kampung biasanya berbaur kembali dengan masyarakat. Namun, ada pula ketika sudah pulang dan teringat lagi dengan masa lalu, terkadang bisa kambuh lagi.
“Kita ikut senang kalau ada pasien yang betul-betul sembuh. Sebab, mereka bisa kembali ke kondisi kehidupan yang normal. Kalau kondisinya sama-sama normal, akan mudah dalam berinteraksi satu sama lain.
Bahkan, ada yang tadinya sesama pasien di sini sekarang ada yang tukar cincin atau menjalin ikatan.
Tapi, masih sebatas tukar cincin. Belum menikah,”ujarnya. Nasir menambahkan, selama puasa Ramadan kegiatan yang dilakukan seperti hari-hari biasa, termasuk mengaji kitab tauhid.
(sm/hib/ida/JPR)





