“Mereka mengalami depresi berat hingga mengalami gangguan jiwa. Ini karena tidak kuat menanggung beban dan cita-cita tinggi yang tidak kesampaian,”ujar Nasir.
Dia menambahkan, di pondok tempatnya merawat pasien sakit jiwa ini juga ditinggali anak pasien yang dulunya dalam kondisi hamil. “Ibunya sudah meninggal.
Kini, anaknya sudah besar dalam kondisi normal dan sehat. Untuk kartu keluarga (KK) ngikut Pak Yai (Abdul Khalim Zein).”
Lalu, bagaimana teknik pengobatan para pasien tersebut? Nasir menyampaikan, upaya pengobatan masih seperti yang dulu. Selain mandi tengah malam dan diberi ramuan obat herbal, juga menjalankan bimbingan rohani keagamaan.
Yakni, salat, berdzikir, mengaji dan aktivitas lainnya. Setiap hari mereka juga diajak berolahraga, menyanyi, dan membersihkan kawasan pondok, sehingga tampak bersih dan asri.
Pihak panti rehabilitasi setiap hari juga menyiapkan asupan makanan secara berselang-seling. Kadang pasien sakit jiwa ini diberi makan dengan lauk daging ayam, tahu tempe atau ikan lele.





