Nasib Peternak Sapi Nggalekan yang Kini Sapinya Nyaris Punah

Nasib peternak sapi nggalekan cukup memprihatinkan. Setelah sapi ras luar negeri menjamur dan banyak dipelihara, sapi mereka yang dulu cukup terkenal kini nyaris punah.

AGUS MUHAIMIN, Trenggalek

PADA era 1970-an, sapi nggalekan merupakan primadona ternak masyarakat. Hampir setiap petani memiliki sapi jenis itu. Terutama untuk di daerah pesisir yang terdapat lahan luas untuk habitatnya. Namun, kini sapi asli Trenggalek tersebut nyaris punah dan sangat sulit menemukannya.

Besar kemungkinan, sapi jenis itu tergantikan sapi-sapi pendatang yang memiliki ukuran lebih besar. ”Kebanyakan peternak sapi beranggapan rugi memelihara sapi ini,” kata Darmaji, seorang pemelihara sapi nggalekan yang masih bertahan.

Selama ini peternak mengukur untung rugi memelihara sapi itu dari nilai jual. Maklum, jika dibandingkan dengan sapi jenis limusin atau brahman, ukuran sapi nggalekan memang lebih kecil. Otomatis dagingnya pun lebih sedikit. Padahal, terdapat sejumlah hal positif yang dimiliki sapi jenis itu.

Menurut Darmaji, dari ketahanan fisiknya, misalnya, sangat jarang sapi nggalekan terserang penyakit. Di sisi lain, sapi nggalekan diyakini lebih mudah beranak. Dengan kata lain, jauh lebih produktif jika dibandingkan dengan sapi jenis lainnya.

Untuk sapi ras luar negeri, saat bunting, dibutuhkan proses yang tak sebentar. Harus berkali-kali kawin suntik agar bunting. ”Jadi, sebagian besar peternak gak sadar. Mereka menunggu sapinya bunting itu kan butuh waktu
lama juga,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.