NASIONAL

Menilik Setumpuk Peninggalan Era Kolonial di Salatiga

×

Menilik Setumpuk Peninggalan Era Kolonial di Salatiga

Sebarkan artikel ini

Salatiga yang dijadikan pusat perkebunan semasa era kolonialisme Belanda, lanjut Warin, membuat Kota berisikan empat kecamatan itu tak luput jadi kesayangan bangsa kulit putih.

“Salatiga dan Magelang itu dulunya juga kota garnisun, Semarang dan Tegal itu pusat pertahanan angkatan laut. Kota-kota yang mempunyai organisasi masonic pada saat era penjajahan pasti dianggap penting,” tuturnya.

Bank bjb Tandamata

Bukan asal bunyi, Warin mengaku mendapat semua informasi itu lantaran dirinya memang hobi mengulas akan sejarah.  Seperti bagaimana getolnya ia menggali masa lalu ketiga kereta jenazah tadi melalui salinan manuskrip yang diperolehnya dari beberapa koneksinya asal Universitas Leiden dan Museum Bronbeek di Negeri Kincir Angin sana.

“Dokumen di sana malah jauh lebih lengkap. Ada data mengenai kapan kereta ini dibuat, perusahaannya, siapa saja yang pernah pakai dan diangkut. Bahkan tarif sewanya juga ada,” katanya.

Mengenai keberadaan anggota Freemasonry di kotanya, ia memastikan kemungkinan besar sudah tidak ada. Lantaran, sebelum dilarang pendiriannya oleh Presiden Soekarno tahun 1962 lalu, hanya orang-orang asing saja yang sempat menjadi bagian dari organisasi penuh misteri tersebut.

“Saking tertutupnya, orang awam hanya bisa mengetahui keanggotaan Freemasonry kalau anggota tersebut sudah meninggal saja. Yakni bisa dilihat pada nisan, ada simbol organisasinya yang juga saya temui di beberapa makam di Salatiga. Salah satunya pemakaman Cina, Ngebong,” tandasnya.

 

(gul/JPC)