Lambang itu terdapat pada salah satu kereta yang didominasi material kaca pada badan utamanya. Bukan terukir dari besi seperti simbol-simbol lain, melainkan dengan cat putih. Bergambar segitiga, lengkap beserta mata satu-nya.
Simbol ini populer dengan nama mata ilahi yang pertama kali dipakai sebagai bagian dari ikonografi Freemasonry pada tahun 1797.
“Memang, karena ini adalah kepunyaan pemerintah kolonial Belanda, miliknya Pejabat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda), karena kan Freemasonry itu isinya petinggi, orang-orang pintar,” imbuhnya.
Akan tetapi, ia tak menyebut siapa sosok asli pemilik kereta ini. Yang jelas, ketiganya pernah digunakan untuk mengangkut jenazah orang-orang penting.
Salah satunya adalah peletak batu pertama Gereja Indische Kerk di Jalan Jenderal Sudirman. “Namanya tidak begitu terkenal, tapi cukup berpengaruh di Salatiga. Dia petinggi militer juga pendeta. Kebetulan buyut teman saya di Belanda,” terangnya.
Warin mengatakan, kelompok Freemasonry dengan keanggotaan tertutup dan berisikan orang-orang dari kalangan intelektual itu pernah menapakkan kakinya di Kota Salatiga. Hal itu tak terlepas dari status kota-kota di Jawa Tengah saat era penjajahan silam.



