Nasrullah mengatakan, perpustakaan BI Perwakilan Kediri itu sebenarnya terbuka untuk umum. Artinya, semua orang bisa memanfaatkannya. Cukup datang ke kantor BI Perwakilan Kediri dan minta tolong ke petugas keamanan untuk diantar ke perpustakaan. “Silakan datang. Tidak perlu untuk menjadi anggota atau mendaftar,” sambungnya.
Memang selama ini masih belum semua masyarakat mengetahui tentang keberadaan perpustakaan tersebut. Kebanyakan, orang yang memanfaatkan perpustakaan tersebut adalah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian atau pemerintah daerah yang sedang membutuhkan data. Padahal, masyarakat luas juga bisa memanfaatkannya.
Untuk lebih bisa menjangkau masyarakat luas, lanjut Nasrullah, BI Kediri memilih untuk ‘jemput bola’, yakni dengan membentuk BI Corner. Saat ini ada tiga BI Corner yang ada di wilayah Kediri, yakni di kampus Uniska, STAIN Kediri, dan Perpustakaan Daerah Kediri. Sedangkan secara keseluruhan di wilayah kerja BI Kediri, semuanya ada tujuh. “Ini semacam perpustakaan mini milik BI, tapi berada di tiga lokasi tersebut,” sambung Nasrullah.
Namun, sebenarnya keberadaan perpustakaan dan BI Corner tersebut tidak hanya sebatas memberikan buku-buku atau referensi dalam bentuk fisik. Nasrullah mengatakan bahwa lebih dari itu, tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat.
Pasalnya, selama ini masih banyak masyarakat yang belum mengenal BI secara menyeluruh. Masih ada kesalahan persepsi di masyarakat yang menyebut bahwa BI sama dengan bank-bank konvensional lainnya. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa BI bisa menyalurkan simpan-pinjam atau menjadi tempat untuk menabung. “Ada yang beranggapan bahwa yang mencetak uang adalah BI,” kata Nasrullah sambil tertawa.



