Pengalaman serupa juga dirasakan Yona Arianto. Saat kerusuhan terjadi, jurnalis media Klik Times itu tak lagi konsentrasi dalam mengetik berita. Tepat pada paragraf ketiga, dia berhenti mengetik karena tembakan gas air mata semakin banyak dan sampai ke tribun tempat media berada.
“Akhirnya aku turun ke ruang preskon karena sudah tidak kondusif. Lalu melihat banyak suporter yang melewati lorong. Akhirnya ikut menggotong korban dan membantu sebisanya, seperti memberi napas buatan,” terangnya.
Bahkan Yona sempat membawa sepatu milik salah satu korban meninggal dunia. Sepatu itu hendak dikembalikan kepada korban yang tinggal di Kanjuruhan.
Meski masih kerap teringat, Yona memutuskan menenangkan diri di rumah. Dia mengaku tidak panik karena sudah sering menghadapi situasi semacam ini. Hanya saja, peristiwa seperti di Kanjuruhan jarang terjadi.
Jurnalis lain bernama Alfi Ramadana tak banyak bercerita. Saat dihubungi, jurnalis dari IDN Times itu hanya mengatakan sekarang kondisinya sudah lebih baik dibandingkan kemarin.
Pada saat kejadian, Alfi tentu panik. Terlebih lagi dia tidak mengira kejadiannya bakal menjadi sebesar itu. Efeknya, dia jadi susah tidur karena masih sering teringat kembali kejadian.
“Kemarin sebenarnya dapat tawaran trauma healing dari kantor. Tapi belum saya ambil. Sampai saat ini masih bertugas. Perlahan sudah mulai membaik,” tandasnya.(*)






