SURABAYA-Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tidak mengizinkan perayaan malam pergantian tahun. Bahkan, sejumlah hotel hingga tujuan-tujuan wisata diminta agar membatasi kuota pengunjung atau wisatawan. “Setiap hotel dan tempat wisata yang punya wisata air atau kolam renang tidak dibenarkan untuk dibuka,” ujar Khofifah.
Menurut dia, destinasi wisata dan hotel di kawasan zona merah atau tingkat risiko tinggi penularan Covid-19 hanya boleh maksimal menampung 25 persen. Sedangkan zona oranye atau tingkat risiko sedang maksimal 50 persen. “Pengunjung hotel dan tempat rekreasi membawa bukti rapid test dengan keterangan nonreaktif. Hal ini sangat penting untuk antisipasi dini penyebaran Covid-19. Apalagi sekarang ini Jatim didominasi zona oranye dan merah,” terangnya.
Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim juga menyediakan layanan rapid test antigen maupun swab bagi sopir truk dan bus Jatim yang akan menuju ke Bali. Hal ini karena adanya kebijakan jika masuk ke Bali wajib rapid test antigen atau swab. Penyediaan fasilitas ini dilakukan pemprov bersama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
“Insya Allah, berlaku mulai 22 Desember 2020 sampai 4 Januari 2021, untuk sopir dan bis. Untuk lainnya diharapkan mereka melakukan rapid test antigen dan swab mandiri. Karena ini persyaratan Pemda Bali. Begitu pula yang kembali ke Jatim, harus dilengkapi bukti rapid test,” jelasnya.
Menurut dia, kebijakan ini merupakan bentuk kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19 di Jatim. Protokol kesehatan harus lebih diperketat lagi. “Karena ketika mobilitas dan interaksi masyarakat meningkat pada Idul Fitri, 17 Agustus, dan akhir Oktober ternyata signifikan terhadap peningkatan penyebaran Covid-19,” katanya.
Sementara itu, juru bicara Satgas Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril Al Farabi menyebut peningkatan kasus positif Covid-19 di Jatim dalam dua minggu terakhir ini telah memunculkan klaster-klaster baru. Yang paling banyak adalah klaster keluarga sebanyak 753 klaster. “Jadi, setidaknya ada 24 klaster yang terjadi dalam dua minggu di awal Desember ini. Terbanyak di klaster keluarga, perusahaan, perkantoran, dan klaster riwayat perjalanan,” jelasnya.
Dari 24 klaster Covid-19, menurut dia, yang kasusnya semakin melonjak adalah 13 klaster riwayat perjalanan, 8 klaster riwayat bepergian dari luar Jatim, 1 klaster riwayat berkunjung ke faskes rujukan Covid-1 dan 1 klaster riwayat kontak dengan pasien dalam pemantauan (PDP). Berdasarkan data peta sebaran Covid-19 Jatim per 20 Desember, tercatat total kasus positif Covid-19 telah mencapai 75.274 kasus, jumlah tersebut bertambah 724 kasus. (sb/mus/jay/JPR)




