Sementara itu, data yang dihimpun Jawa Pos hingga kemarin, sudah ada 1.944 korban meninggal akibat gempa dan tsunami. Seluruh korban meninggal hingga kemarin sudah dimakamkan. Pemerintah menyedikan dua lokasi pemakaman masal. Yakni, Poboya dan Pantoloan. Sementara itu, pemakaman korban gempa dan tsunami paling banyak dilakukan keluarga. Korban yang belum terevakuasi per pukul 17.00 Wita kemarin mencapai 152 orang. Sedangkan korban hilang mencapai 683 orang.
Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, kondisi pascalikuefaksi itu memang agak menyulitkan pencarian. Sebab, tinggi lumpur diperkirakan bisa sedalam 3 meter seperti di Petobo yang area terdampaknya mencapai 180 hektare.
Petugas pencari korban pun fokus untuk mencari di daerah yang timbunan lumpurnya hanya 1 meter atau di reruntuhan rumah. ”Daripada mengaduk-aduk (lumpur) 3 meter yang kita juga tidak tahu korban di mana. Pada saat likuefaksi rumah-rumah bergeser, bergerak, hanyut sambil tenggelam,” ujar Sutopo yang genap berusia 49 tahun kemarin.
Di Petobo dan Balaroa diperkirakan masih ada 5.000 orang yang belum ditemukan. Tapi, pengakuan dari pengurus kelurahan itu perlu pendataan lebih lanjut dari petugas BNPB. ”Memang tidak mudah untuk mendata berapa pasti korban yang tertimbun oleh material longsoran maupun akibat likuefaksi. Evakuasi terus dilakukan,” ucapnya.
Bahkan, kondisi lumpur akibat likuefaksi di Jono Oge, Kabupaten Sigi, masih basah. Telah ditemukan 33 korban meninggal selama lima hari pencarian di area terdampak likuefaksi seluas 202 hektare. Sesuai rapat koordinasi di pos pendamping nasional pada Sabtu pagi (6/10), petugas membutuhkan sedikitnya enam ekskavator amfibi yang bisa mencari di area berlumpur.
”Kami meminta PU (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Red) untuk mencari atau menyewa ekskavator amfibi. Ya, juga sulit nyarinya. Ya, kita berkejaran waktu dengan keterbatasan yang ada,” ungkap dia.



