Wilayah paling terdampak berada di area Perumnas Balaroa. Dia belum bisa memberikan data terperinci mengenai jumlah penduduk yang selamat dan meninggal. Yang pasti, di area perumnas, penduduk Balaroa tercatat sebanyak 800 KK. ”Datanya belum bisa kami pastikan,” jelasnya.
Soal area perumnas yang dijadikan pemakaman masal, Rahman belum bisa memberikan jawaban. Soal itu, menurut dia, bergantung keputusan pemerintah pusat. Lurah hanya menjalankannya.
Di tempat terpisah, Arwan, warga Kelurahan Petobo, Palu Selatan, menolak wacana pemerintah menghentikan evakuasi di area terdampak likuefaksi Petobo. Dia masih berharap pemerintah melakukan penggalian. Dengan demikian, kabar puluhan saudara dan kerabatnya yang sampai saat ini belum ditemukan menjadi jelas. ”Harus tetap digali karena banyak manusia di dalam (tanah, Red),” ujarnya saat ditemui Jawa Pos.
Berbeda dengan Arwan, tokoh masyarakat Petobo, Jasman, setuju dengan opsi menjadikan lokasi bencana sebagai kuburan masal. Sebab, bila tanah digali, belum tentu kondisi jenazah yang ditemukan nanti utuh. ”Kalau digali, nanti malah ada bagian tubuh yang ketarik dan akhirnya putus,” ungkapnya.
Jasman mengakui, masih banyak warga Petobo yang belum jelas kabarnya. Namun, dia menduga warga-warga itu terkubur di area permukiman yang kini telah rata dengan tanah tersebut. Hitungan Jasman, masih ada sekitar 4 ribu warga yang tertimbun di Petobo. ”Perkiraan yang tertimbun separo lebih,” papar Jasman.
Meski demikian, pihaknya akan tetap mengedepankan musyawarah bersama dengan warga-warga lain yang kini tinggal di pengungsian. Dari pertemuan itu, akan dicapai kesepakatan bersama. Apakah setuju penggalian atau tidak. ”Kami akan bicara dengan warga-warga di sini (Petobo, Red),” imbuh dia.



