“Ya karena kalau memang foto saya salah atau menyalahi kode etik jurnalistik, mana mungkin dipakai di banyak media massa. Nah itu yang buat saya merasa cukup tenang,” kata dia.
Qhorrie pun menegaskan lagi maksud dari diunggahnya foto tersebut. Bahwa dia ingin memberikan edukasi, informasi sekaligus peringatan kepada warga masyarakat agar mematuhi aturan yang berlaku dari pemerintah. Dia pun pada hari itu tidak mengira bahwa bakal terjadi kepadatan warga dan kendaraan, kendati telah mempersiapkan diri dengan memakai masker, membawa hand sanitizer dan tisu basah antiseptik.
“Karena ada yang komen juga ke saya ‘terus teteh ngapain disitu?’. Ya saya sekalian menjawab bahwa saya kebetulan ada keperluan penting. Saya kira bakal sepi, tapi ternyata enggak. Gak ngira juga bakal sepadat itu Kota Sukabumi kemarin,” terangnya.
Namun, berdasarkan kejadian ini, Qhorrie mengaku kejadian ini memberikan pengalaman yang sangat penting dan berarti bagi dirinya. Terlepas dari benar salah, Qhorrie akan lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan media sosial.
“Ini jadi pengalaman penting dan berhaga bagi saya. Intinya saya harus hati-hati lagi dan bijak dalam bermedsos. Dan kepada pihak yang mungkin merasa dirugikan oleh foto saya, saya ucapkan mohon maaf. Tapi saya yakin, insya Allah tidak mungkin lah pemerintah menutup toko tersebut. Karena toko nya tidak salah,” tukas Qhorrie. (izo/rs)




