SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Qhorrie Malla mengaku bahwa tidak pernah terpikirkan sama sekali bahwa akibat foto yang diunggahnya di akun media sosial pribadi menjadi viral. Foto yang dimaksud tentang kerumuman warga di salah satu toko busana di kawasan Jalan Ahmad Yani, Kota Sukabumi.
“Sebelumnya saya sempat ragu mau posting fotonya, tapi setelah saya pertimbangkan karena niat saya baik, maka saya posting saja foto itu pertama kali di beranda pribadi saya,” kata Qhorrie saat bertandang ke Gedung Graha Pena Radar Sukabumi, Rabu (6/5/2020).
Qhorrie menceritakan, akibat fotonya yang kini menjadi viral tersebut, dirinya banyak mendapatkan apresiasi bahwa telah mengungkap fakta tentang social distancing di Kota Sukabumi, terlebih lagi jelang penerapan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Akan tetapi di lain hal, ada pula segelintir pihak yang tidak suka dengan adanya foto tersebut.
“Ya, terus terang, saya mendapatkan intimidasi dari orang-orang yang mengatas namakan karyawan di salah satu toko pakaian tersebut. Mereka tidak suka dan tidak senang karena foto saya yang viral itu bisa berdampak pada tutupnya toko tersebut. Sehingga mereka kehilangan pekerjaan dan penghasilan,” ujar wanita yang berdomisili di Sukaraja itu.
Qhorrie pun membeberkan kronologi dirinya memotret hingga mengunggah foto-foto kerumumnan warga tersebut. Kejadian itu pada hari Minggu (3/5) lalu. Saat itu, Qhorrie memang berniat untuk membeli keperluan berupa pakaian. Perempuan berhijab itu mengaku soal urusan membeli keperluan pakaian, selalu langganan di toko tersebut.
Toko yang memiliki tema warna biru dan merah memiliki tiga outlet, masing-masing di Jalan Ahmad Yani, Jalan Kapten Harun Kabir dan Jalan Ciwangi. Secara kebetulan, barang yang dia ingin beli tidak didapati di tiga toko tersebut.
Sembari berbelanja, naluri Qhorrie menangkap banyak hal yang ganjil berkaitan dengan aturan social distancing cegah covid-19. Yakni banyaknya warga yang berkerumun baik itu di jalan raya maupun di sejumlah toko, termasuk di toko pakaian yang dia datangi.
“Jadi sebenarnya yang saya soroti adalah warga nya yang tidak menerapkan social distancing. Bahkan banyak saya lihat, pengunjung yang bawa anak, orang tuanya pakai masker, sedangkan anaknya tidak. Nah itu yang saya foto,” kata Qhorrie.
“Saya tidak bermaksud menyoroti tokonya. Malah menurut saya, toko nya sudah benar dan tepat kok. Dari pintu masuk SOP terkait corona itu sudah dilakukan. Para pegawainya pakai masker. Ada tempat hand sanitizer. Terus salah satu karyawan malah terus mengimbau dengan pengeras suara ‘tolong jaga jarak, pakai masker’ gitu. Jadi sekali lagi yang saya soroti adalah warganya, bukan tokonya. Tokonya mah sudah bagus,” sambung dia menjelaskan.
Namun sayang seribu sayang, maksud baik Qhorrie ternyata ditanggapi oleh sejumlah pihak dengan tidak tepat dan tidak bijak. Sehingga pasca viralnya foto-foto kerumuman pembeli pakaian itu, sejumlah netizen mulai ‘menyerang’ dia lewat kolom komentar media sosial.
“Jujur saya gak nyangka banget bakal viral dan dapat respons seperti ini. Tapi Alhamdulillah, lebih banyak orang yang mendukung saya termasuk dari media-media di Sukabumi,” tutur Qhorrie.
Sebagai bukti bahwa dia mendapatkan dukungan tersebut, imbuh Qhorrie, bahwa fotonya banyak dipakai sebagai sumber istimewa di sejumlah media massa baik cetak maupun digital. Bahkan, timpalnya lagi, media-media yang mendukungnya menyatakan bahwa foto Qhorrie tidak menyalahi kode etik jurnalistik.




