SUKABUMI – Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada warga di Kota Sukabumi, nampaknya masih tinggi. Bagaimana tidak, dari data yang tercatat Dinas Kesehatan (Dinkes) sepanjang Januari hingga Desember 2024 terdapat sebanyak 1.631 kasus dan enam diantaranya meninggal dunia.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Drg Wita Darmawanti mengatakan, dari jumlah kasus yang ada rinciannya yakni, 129 Januari, 167 Februari, 139 Maret, 204 April, 220 Mei, 173 Juni, 162 Juli, 110 Agustus, 88 September, 72 Oktober, 82 November dan 85 Desember. “Adapun, enam yang meninggal dunia yaitu, 1 April, 3 Mei, 1 Juni dan 1 Juli,” kata Wita kepada Radar Sukabumi, Kamis (30/1).
Apabila melihat dari data yang ada, lanjut Wita, kasus DBD terjadi paling banyak pada April dan Mei. Sebab itu, saat musim hujan masyarakat perlu waspada dari berbagai penyakit salah satunya penularan DBD.
“Chikungunya dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Kondisi ini umumnya ditandai dengan demam tinggi dan nyeri sendi secara mendadak,” paparnya.
Ia menerangkan, genangan air hujan bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti yang merupakan penyebab DBD. “Karena itu, kami terus berupa melakukan upaya penanggulangan dan pencegahan, terkait penyakit yang harus diwaspadai saat musim penghujan ini. Upaya yang kita lakukan yaitu Promosi Kesehatan (Promkes) dan edukasi. Pelayanan kesehatan tetap siap,” ucapnya.
Selain itu, Dinkes juga berupaya menurunkan angka kasus DBD ini dengan berbagai cara. Misalnya saja, mensosialisasikan pencegahan ke masyarakat tentang 3M Plus, yakni menguras, menutup, mendaur dan mencegah, serta mengedukasi masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Terpenting itu, masyarakat harus bisa melakukan gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Dan kami juga berupaya melakukan fogging,” bebernya.
Wita menambahkan, Dinkes juga mengajak masyarakat untuk menerapkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J). Program itu bertujuan untuk mengoptimalkan segenap anggota keluarga menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumahnya masing-masing.
“Kami juga mengaktifkan kelompok operasional penanggulangan DBD atau Pokjanal di berbagai tingkatan RT, RW, kelurahan, kecamatan, hingga tingkat kota, sehingga dengan berbagai upaya itu diharapkan mampu menekan jumlah kasus DBD di Kota Sukabumi,” tukasnya. (bam/d)






