SUKABUMI – Sebanyak delapan sekolah tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sukabumi yang terdampak bencana cuaca ekstrem. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah-sekolah tersebut akan dilakukan secara jarak jauh atau daring.
Hal demikian, disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Khusyairin. Bahwa menurutnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi telah mengambil langkah-langkah penanganan terhadap sekolah-sekolah yang terdampak.
“Kami telah menugaskan seluruh pengawas dan kepala sekolah untuk mendata serta melaporkan kondisi sekolah yang terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Laporan ini mencakup kondisi bangunan sekolah, peserta didik, guru, serta lingkungan sekitar,” kata Khusyairin kepada Radar Sukabumi pada Kamis (13/03).
Laporan tersebut, sambung Khusyairin, telah disampaikan melalui aplikasi yang telah disiapkan oleh Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan diterima oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi. Langkah utama yang diambil adalah memastikan keamanan warga sekolah, terutama bagi sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan parah, seperti bangunan roboh atau terdampak banjir.
Dinas Pendidikan telah menerbitkan surat edaran yang mengatur pelaksanaan pembelajaran bagi sekolah terdampak. “Sekolah yang terdampak bencana dan tidak dapat diakses akan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Jika hanya akses menuju sekolah yang terdampak, seperti jembatan putus atau jalan longsor, maka hanya siswa yang kesulitan akses yang belajar dari rumah, sedangkan sekolah tetap beroperasi seperti biasa,” ujarnya.
Delapan sekolah yang terdampak berada di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Simpenan, Palabuhanratu, dan Kecamatan Lengkong.
Terkait perbaikan bangunan sekolah yang rusak, prosesnya akan mengikuti mekanisme rehabilitasi yang terdiri dari tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.






