Proyek Rabat Beton Dituding Asal-asalan

CIKEMBAR— Warga Kampung Bojong, Desa Bojong, Kecamatan Cikembar memprotes dan menuding proyek rabat beton di Jalan Raya Pelabuhan II, tepatnya di Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, perbaikannya asal-asalan. menurutnya, perbaikan jalan milik Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat yang dikerjakan oleh rekanan PT Siam Ceman Group (SCG) ini sudah beberapa hari tidak dikerjakan.

Yudi Suryadi (35) yang merupakan seorang warga setempat mengatakan, warga dan pengguna lalu lintas, merasa terganggu dengan lambatnya proses pengecoran jalan tersebut. Terlebih lagi, poros jalan ini, merupakan akses utama warga menuju tempat publik. “Sudah ada sekitar satu pekan terakhir, kami tidak melihat petugas kontraktor yang bekerja melakukan rabat beton di jalan ini,” jelas Yudi kepada koran ini, kemarin (17/8).

Bacaan Lainnya

Keterlambatan proses pengerjaan rabat beton jalan provinsi ini, sambung Yudi, sempat dipertanyakan warga kepada PT SCG. Saat itu, pihak perusahaan berdalih, bahwa PT SCG sudah memeberikan teguran kepada pihak rekanan yang diberikan kepercayaan untuk melakukan pembangunan rabat beton sepanjang 1,2 Kilometer tersebut. Namun, faktanya sampai saat ini, pengerjaan proyek rabat beton itu pekerjaannya belum juga dilanjutkan. “Proses pengerjaan jalan ini, sudah berlangsung 2 bulan. Namun, pengerjaannya baru selasai 40 persen dari total panjanng jalan sekitar 1,2 kilometer,” bebernya.

Hal serupa, dikatakan Kamaludin (32), pengguna lalu lintas asal Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, mengatakan, selama pengerjaan proyek rabat beton, tidak sedikit kendaraan roda dua yang mengalami kecelakaan di jalan tersebut.

Apalagi, sebelum pembangunan rambat beton, tepatnya pada Juni 2018, terlihat tumpukan material berada di badan jalan sehingga dapat mengancam keselamatan pengguna jalan. “Jalan ini sering dilalui kendaraan. Apalagi, saat jam masuk dan pulang kerja karyawan, pasti akan padat. Ditambah lagi, dengan pengerjaan rambat beton tentu kemacetan bertambah parah,” jelasnya.

Pengguna lalu lintas, merasa kesal lantaran akibat proyek rabat beton itu, menimbulkan kemacaten panjang. Bahkan, pengguna jalan membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih untuk melintasi area tersebut. “Saya pulang kerja dari pabrik sepatu biasanya hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam sampai rumah. Namun karena ada proyek itu, saya harus memakan waktu 2 jam supaya bisa sampai rumah,” jelasnya.

Untuk itu, warga dan pengguna lalu lintas, menilai pengerjaan proyek jalan tersebut, dianggap berdampak buruk terhadap kelancaran lalu lintas. Kondisi tersebut kerap terjadi saat pagi dan sore hari, karena banyak pekerja kantor dan siswa sekolah yang masuk dan pulang. “Tanpa ada pembangunan proyek, lalu lintas di jalan ini sudah padat.

Apalagi saat ini ada pengerjaan proyek jalan, pasti kemacetannya lebih panjang. Hal ini tentu sangat mengganggu aktivitas kami sebagai pengguna jalan,” tandas Kamal seraya berharap pihak kontraktor agar segera menyelesaikan pekerjaan rabat beton tersebut. Hingga berita ini ditulis, wartawan koran ini belum mendapatkan klarifikasi baik dari PT SCG maupu dari pihak pelaksana proyek selaku penanggung jawab dalam pembangunan perbaikan jalan yang diprotes warga tersebut.

 

(cr13/d)

Pos terkait