SUKABUMI – Memasuki musim kemarau, belasan hekatare lahan pesawahan warga di wilayah Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, terlantar. Ini terjadi, lantaran sungai yang biasanya untuk mengairi lahan pertanian warga di wilayah tersebut, tidak dapat terailiri air secara maksimal.
Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani kepada Radar Sukabumi mengatakan, sejak memasuki musim kemarau pada 3 bulan terakhir, belasan hektare lahan pertanian di wilayah desa yang tengah dipimpinnya tersebut, dibiarkan terlantar oleh para petani.
Berdasarkan data yang tercatat di Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi melalui Balai Penyuluh Pertanian atau BPP Kecamatan Kebonpedes, bahwa jumlah total lahan pertanian di Desa Kebonpedes ini, terdapat sekitar 100 hektar.
“Dari ratusan hektare tersebut, 13 hektare diantaranya sudah dilaporkan telah terdampak kekeringan,” kata Dadan kepada Radar Sukabumi pada Jumat (23/08).
13 hektare yang terlantar akibat kekeringan ini, sambung Dadan, berada di wilayah Kelompok Tani Bojongsoka dan Kelompok Tani Subur Tani, Desa Kebonpedes. “Iya, 13 hektare lahan pertanian itu, dibiarkan saja terlantar. Kalau kalau ditanami padi atau palawija maupun tanaman holtikultura juga, hasilnya tidak akan maksimal. Bahkan, berpotensi gagal panen. Karena, airnya tidak sampai ke lahan pertanian,” paparnya.
Untuk itu, para petani dari Poktan Bojongsoka dan Poktan Tani Subur, lebih memilih tidak menanam jenis tanaman apapun di lahan pertaniannya. “Iya, karena kalau dipaksakan menanam juga, mereka pasti mengalami kerugian,” imbuhnya.






