Atraksi doger monyet yang sejak dulu dikenal dan digandrungi oleh lapisan masyarakat, kini mulai terkikis keberadaannya. Ini akibat dari perkembangan zaman yang semakin maju dan serba teknologi.
Pertunjukan doger monyet mulai meninggalkan peradabannya. Hal ini seiring dengan semakin pesat dan canggihnya perkembangan modernisasi saat ini. Dampaknya, hiburan klasik pada era tahun 80-an ini semakin tenggelam ditelan zaman.
Rojudin (34), asal warga Jalan Raya Talang, Desa Talang, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah sengaja datang ke Sukabumi bersama seorang temannya Pardi (29), warga Cidaun, Kabupaten Cianjur. Keduanya datang ke Sukabumi untuk mengais rejeki melalui hiburan doger monyet.
“Saya sudah lebih dari 10 tahun mencari nafkah melalui hiburan klasik ini. Setiap hari saya bersama dengan Pardi keliling ke pumukiman warga dan singgah di area publik untuk melakukan hiburan doger monyet,” jelas Rojudin kepada Radar Sukabumi, usai melakukan atraksi doger monyet di Jalan Raya Babakan – Jampangtengah, tepatnya di Kampung Cibatu Lana Jaya, Desa Cibatu, Kecamatan Cikembar, Senin (5/3).
Pawang doger monyet ini mengaku, saat ini komunitas anak-anak lebih menggemari permainan Play Station (Ps), Hand Phone maupun aneka permainan lainnya ketimbang menyaksikan atraksi doger monyet. Perkembangan teknologi zaman telah menggeser keberadaan doger monyet dalam kondisi keterpurukan. Hal ini, terbukti berkurangnya peminat doger monyet dikalangan anak-anak membuat penghasilan dirinya sebagai pawang menurun drastis.
“Biasanya tarif untuk sekali pertunjukkan doger monyet saya bisa menghasilkan Rp5 ribu hingga Rp15 ribu. Namun, saat ini mendapatkan Rp5 ribu saja sudah beruntung,” paparnya.



