Untuk memastikan kematian korban, pihak Kepolisian sempat menyarankan kepada pihak keluarganya untuk dilakukan autopsi. Namun, pihak keluarganya telah menolak dengan alasan, bahwa kejadian tersebut sebagai musibah. “Saya bersama keluarga sepakat untuk tidak diotopsi. Kami harus ikhlas ini suatu musibah dan takdir dari Allah SWT,” bebernya.
Janazah anak saya akan dimakamkan di kampung halaman saya, tepatnya di samping almarhum nenek saya, yaitu di Ciikujang Jalan Pelabuhan II,” timpalnya.
Sementara itu, Kapolsek Cibadak, Resor Sukabumi, Kompol Ridwan Ishak mengatakan, pihaknya membenarkan bahwa korban yang ditemukan tewas setelah terserempet KA Pangrango itu, merupakan warga Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan.
Sebelum terkuak identitasnya, pihaknya mengaku telah berupaya mencari identitas korban melalui sidik jari menggunakan alat Biomorf Fingerprint. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Identitas korban baru kami temukan, saat seorang warga melaporkan kehilangan anggota keluarganya di RSUD Sekarwangi. Keluarga tersebut mengonfirmasi bahwa jasad yang ditemukan adalah FCB (22), warga Jalan Cikukulu RT 18/RW 05, Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi,” kata Ridwan Ishak kepada Radar Sukabumi pada Rabu (10/01).
Ketika disinggung mengenai kronologis kejadian korban bisa ditemukan tewas setelah terserempet KA Pangrango itu. Ridwan menjawab, berdasarkan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan beberapa saksi-saksi, bawha sebelum kejadian korban diketahui telah turun dari angkutan umum (Angkot) di depan pangkalan ojeg Cimahi pada Selasa (09/01) sekitar pukul 15.30 WIB.
Setelah itu, korban meminta tukang ojek untuk mengantarkannya ke Cicantayan dan turun di sekitar TKP, tepatnya di Kampung Paledang, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan (TKP). “Sekira pukul 17.20 WIB, korban sempat mendatangi warung di sekitaran TKP untuk membeli kerupuk, lalu oleh pemilik warung ditanya mau kemana. Tetapi, korban tidak menjawab pertanyaan. Setelah itu korban berjalan kembali ke sekitaran rel KA Pangrango,” tukasnya.
Setelah membeli kerupuk di warung yang ada disekitaran Kampung Paledang, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, korban kembali ke rel dan tidak lama kemudian korban ditemukan tergelatak di tengah rel KA Pangrango. “Korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi patah di beberapa bagian tubuh,” imbuhnya.
Berdasarkan olah TKP, diduga korban meninggal dunia akibat tertabrak KA Pangrango arah Sukabumi menuju Bogor, tepatnya ketika saat korban tengah berjalan di rel KA Pangrango.
“Jenazah korban sudah kebumikan oleh pihak keluarganya tadi pagi, tepatnya di kampung halaman Ibunya sendiri di samping almarhumah neneknya di wilayah Kota Sukabumi Cikujang, Jalan Pelabuhan II,” pungkasnya. (Den)





