KABUPATEN SUKABUMI

Jembatan Diterjang Banjir, Guru Hamil 7 Bulan dan Siswa Menantang Derasnya Sungai Cikaso 

×

Jembatan Diterjang Banjir, Guru Hamil 7 Bulan dan Siswa Menantang Derasnya Sungai Cikaso 

Sebarkan artikel ini
BERTARUH NYAWA : Sejumlah siswa SDN Cibadak, Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong, harus rela bertaruh nyawa saat menyebrangi sungai Cikaso.
BERTARUH NYAWA : Sejumlah siswa SDN Cibadak, Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong, harus rela bertaruh nyawa saat menyebrangi sungai Cikaso.

SUKABUMI – Dampak diterjang banjir bandang yang melanda Kabupaten Sukabumi pada beberapa waktu lalu, masih menyisakan luka mendalam bagi warga. Salah satu insiden yang terus membayangi aktivitas sehari-hari adalah putusnya jembatan penghubung Kecamatan Jampang Tengah dan Kecamatan Lengkong akibat derasnya arus Sungai Cikaso.

Akibat putusnya jembatan tersebut, guru dan siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cibadak, tepatnya di Kampung Cibadak, Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong, harus bertaruh nyawa menyeberangi Sungai Cikaso untuk sampai ke sekolah.  Salah satunya adalah Leni Sumarni (41), seorang guru yang tengah mengandung tujuh bulan.

Bank bjb Tandamata

Setiap hari, Leni yang tinggal di Kampung Pamoyanan, Desa Bantarpanjang, Kecamatan Jampangtengah, harus menahan rasa sakit di perutnya saat menyeberangi sungai yang memiliki lebar 80 meter dengan arus deras. 

Sejak jembatan darurat yang sempat dibangun relawan Jampang Peduli hanyut pada Desember 2024, dan kembali diterjang banjir pada 4 Maret 2025, Leni tidak punya pilihan lain selain menyeberangi sungai dengan alat pengikat perut untuk menopang kandungannya.

“Iya, barusan perut ini agak turun, kaki juga sedikit bengkak karena harus menahan arus air,” kata Leni pada Minggu (27/04). 

Menurut Leni, jika memilih menggunakan jalan alternatif, waktu tempuhnya bisa mencapai dua jam lebih, melalui jalur berbahaya di tebing dan jalan tanah yang licin. Meski resikonya tinggi, Leni tetap memilih menyeberangi sungai, demi menjalankan tugasnya sebagai guru di daerah terpencil.

“Selama saya masih bisa berjalan, saya tetap berangkat mengajar. Kecuali kalau kondisi saya benar-benar drop. Segala risiko sudah saya perhitungkan sejak awal. Ini demi anak-anak didik saya yang menunggu di sekolah,” bebernya.