KABUPATEN SUKABUMI

Desa Sudajaya Girang Bentuk Kampung Florist

×

Desa Sudajaya Girang Bentuk Kampung Florist

Sebarkan artikel ini
MENUNJUKAN FILE PROGRAM: Kepala Desa Sudajaya Girang, Edi Juarsah saat menunjukan file Florist yang akan dikembangkannya, belum lama ini.

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com- Pemerintah Desa (Pemdes) Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi akan meluncurkan Kampung Florist pada Agustus 2019 mendatang. Program ini disesuaikan dengan potensi yang dimiliki desa.
Dari informasi yang diperoleh Radar Sukabumi, program tersebut akan direalisasikan di Kampung Selabintana RW 03 dan RW O4. Dua RW ini dipilih karena memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan program kampung florist. Hampir 90 persen dari 1.00 Kepala Keluarga (KK) merupakan pelaku usaha tanaman hias. “Ya, rencananya pada Agustus mendatang kami akan meluncurkan program ini untuk mendorong dan mengembangkan potensi yang ada di daerah,” kata Kepala Desa Sudajaya Girang, Edi Juarsah kepada wartawan.
Menurutnya, warga di Kampung Selabintana mempunyai sejarah sebagai pelaku budidaya tanaman hias sejak dari jaman Belanda. Sehingga warga sudah memiliki dasar budidaya tersebut. “Kami hanya akan berupaya mengembangkan saja, karena memang warganya sudah memahami bagaimana cara berbudidaya tanam hias tersebut,” ujarnya.
Selain itu, berdasarkan pemetaan wilayah dua ke-RW-an ini masuk dalam katagori kawasan kumuh, sebab itu dengan adanya program Kampung Florist sekaligus bisa menata kembali agar lebih baik ke depannya. “Karena apabila dibiarkan wilayah itu akan tetap kumuh. Mudah-mudahan dengan adanya Kampung Florist ini bisa sekaligus mengurangi jumlah kawasan kumuh di Kampung Selabintana,” paparnya.
Diterangkan Edi, konsep yang akan diterapkan di Kampung Florist tersebut adalah menata lingkungan sedemikian rupa dengan mengedepankan kearifan lokal dengan mengembangkan tanaman endemik khusus di wilayah masing-masing dengan melibatkan generasi muda. “Karena saat ini generasi muda sudah tidak tertarik dengan bertani tanaman hias, padahal hasil dari usaha tanaman hias cukup menjanjikan jika dikelola secara modern, baik dari segi pembudidayaan maupun pemasarannya. Hal itu sudah dibuktikan oleh beberapa warga yang sudah bisa menembus pasar internasional,” terangnya.
Untuk tahap awal, kegiatan akan didanai sebesar Rp 500 juta yang bersumber dari anggaran Program Pembangunan Partisipasi Kecamatan (P3K). Dana ini akan digunakan untuk pembuatan etalase berupa gerbang masuk kampung Selabintana Wetan yang dilengkapi rak-rak bunga di sepanjang jalan. “Sebetulnya untuk pembangunan program tersebut diperlukan dana sekitar Rp5 miliar, namun kami akan melakukannya secara bertahap dengan dana seadanya. Untuk pembudidayaan tanaman itu sendiri akan memanfaatkan secara maksimal lahan kosong yang dimiliki warga untuk meminimalisir pengeluaran. Bila memungkinkan kami akan mengajukan menggunakan dana desa untuk mengembangkannya,” pungkasnya. (bam/d)