Kata F lagi, untuk pembelian tiket sendiri oleh masing masing calon pekerja tadi, dengan rincian pemberangkatan pertama saat iti pukul 20.00 Wib sebanyak tiga orang, sementara sisanya 5 orang lagi berangkat diperkirakan sekitar pukul 01.00 Wib.
“Nah saat jam satu itu, katasi penipunya bilangnya mau pulang dulu mau naruh mobil, abis naruh mobil itu, kita telponin sampai jam 1 kok gak datang datang, ditanta tanya mundur lagi, katanya mau diberangkatin jam 5 pagi, sampai di bandara sekitar 3 hari,” paparnya.
“Kami selama di bandara tinggal di sekitan di musola, makan minum seadanya, uang sudah menipis. Terus yang sudah di Malaysia juga terdampar sama, selama tiga hari juga, bahkan sampai pulang lagi, ketemu lagi kami, terus di kasih tau, kaya ini gak bener paspor yang mau di bikinin juga gak ada,” jelasnya.
Hingga akhirnya, F mengungkapkan guna memastikan keberadaan terduga penipu yang berada di wilayah kecamatan Cikakak dan Cisolok yang merupakan saudaranya.
“Akhirnya kamk ke Sukabumi, katanya ke saudaranya, ternyata bukan juga,” terangnya.
Sementara itu korban lainnya AMH mengaku datang ke Sukabumi untuk mencari pelaku karena ada seorang korban yang mengenalnya. Namun, keluarga pelaku hanya melepas tangan dan mereka belum memperoleh solusi atas permasalahan ini. Dari sisi hukum, perwakilan korban sudah melaporkan kasus ini ke polisi meski nilai kerugiannya dianggap kecil.
“Sementara posisi kita saat ini bingung harus bagaimana uang sudah benar-benar habis, sudah ada perwakilan kita yang datang ke polisi, hanya memang karena lokasinya di Bekasi kita harusnya lapor di sana,” timpalnya.
“Belum lagi nilai kerugiannya kan katanya sedikit, padahal buat kami uang segitu besar saya sampai jual perhiasan anak,” lirihnya singkat. (Ndi)






