Hujan Lebat, Jatinangor Terendam Banjir

Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang terendam banjir.
Salah satu daerah di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang terendam banjir. (foto: ist)

JATINANGORHujan lebat yang terjadi akhir pekan kemarin mengakibatkan sejumlah wilayah di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang dikepung musibah banjir, hingga mengakibatkan ratusan Kepala Keluarga (KK) terdampak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sejumlah wilayah di Kecamatan Jatinangor diterjang banjir, diantaranya, Desa Cileles, Hegarmanah, Cikeruh dan Desa Sayang.

Bacaan Lainnya

Bahkan, banjir yang lebih parah terjadi di Desa Cikeruh karena menggenangi 4 RW yakni RW 07, RW 08, RW 09 dan RW 10 dengan jumlah yang terdampak 238 KK.

Anggota DPRD Kabupaten Dr. Dudi Supardi mengatakan, akibat curah hujan yang cukup tinggi bendungan sendimen trap yang berada di desa Cikeruh meluap, membuat air menggenangi pemukiman warga.

“Saya merasa heran, karena sedimen trap itu belum juga diresmikan, ternyata tidak sanggup menampung air ketika hujan besar di sungai Cikeruh,” ucap Dudi.

Dudi memprediksi, apakah salah perhitungan atau perkiraan fail banjirnya, akibat curah hujan yang besar dan terjadinya land clearing pada pembangunan jalan tol, pada akhirnya mengakibatkan sejumlah Desa di Kecamatan Jatinangor Banjir.

“Saya berharap pihak Tol dapat membuat saluran yang bisa membagi alur air ke berbagai arah, sehingga bisa terbagi ke arah sungai Cikeruh dan Cibeusi,” tambahnya.

Selain menerjang pemukiman warga, banjir juga mengakibatkan ribuan hektar sawah di Desa Cileles menjadi terdampak hingga menimbulkan banyak kerugian.

Pegiat lingkungan hidup dan tata ruang Gelap Nyawang Nusantara (GNN) Asep Riyadi mengatakan, terjadinya banjir di Jatinangor salah satunya diakibatkan adanya pembangunan jalan tol, yang tidak dibarengi dengan jaringan pembuangan air mumpuni.

“Desa Cileles diprediksi akan menjadi daerah terdampak dari pembangunan jalan tol Cisumdawu,” ucapnya.

Asep Riyadi menjelaskan, kondisi tersebut tidak bisa dipungkiri. Sebab, tidak adanya program perlindungan terhadap pembukaan lahan dengan memberikan bantuan pemulihan lingkungan sebelum tol dibuat.

“Seharusnya pihak tol sudah dapat mengantisipasi hal ini dengan melakukan penanaman diareal yang akan berpotensi menimbulkan bencana banjir,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh stakeholder untuk melakukan gerakan moral yakni menanam pohon.

“Sejak awal sebenarnya bisa di minimalisir, daerah mana yang akan berpotensi menjadi genangan air, dengan menyiapkan jauh-jauh hari ketersediaan tanaman yang bisa membantu proses penyerapan air ke dalam tanah, apalagi jika dari awal jalur pembuangan airnya sudah di siapkan dan di tata,” pungkasnya.

Sementara itu, adanya rumah warga yang terendam banjir, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Jatinangor melakukan evakuasi dan membantu pembersihan rumah warga.

“Kami (Forkopimcam) kemarin membantu evakuasi, sementara setelah air surut membantu membersihkan rumah-rumah warga bekas sisa banjir,” ucap Camat Jatinangor Herry Dewantara didampingi Danramil Kapten Infanteri Lesly Darmawan dan Kapolsek Kompol Aan Supriatna.

Ia menambahkan, selain merendam rumah, banjir dengan ketinggian air mencapai 1 meter itu, juga menutup ruas jalan Desa dan Jalan Kabupaten, sehingga akses jalan sempat ditutup sementara.

“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada, terhadap ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi,” tutupnya.

Reporter: Toha

Sumber: Radar Sumedang


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *