Featured

Nyala Mimpi Anak Kampung Yang Sempat Mati di Madrasah Kandang Kuda

×

Nyala Mimpi Anak Kampung Yang Sempat Mati di Madrasah Kandang Kuda

Sebarkan artikel ini

“Bu Ainismar (alm) berinisiatif mendirikan sekolah dengan Pak Muchtar. Keinginannya ternyata didukung penuh tokoh masyarakat,” ujar Murniati, guru senior di MIS Tabek mengisahkan.

Setelah itu, disepakatilah MIS Allimin berdiri di bangunan bekas rumah guru. Namun kondisinya reyot dan sudah dipenuhi semak-belukar. Atapnya rusak, bocor, sebagian dinding pun roboh.

Bank bjb Tandamata

“Sangat tidak layak. Saking buruknya, orang dulu menyebut ruang belajar MIS ini seperti kandang kuda,” kata Murniati yang mengajar sejak MIS Tabek berusia dua tahun.

Dengan semangat bersama, didukung Wali Nagari, tokoh masyarakat dan penggagas sekolah, kawasan rumah guru itu pun dibersihkan. “Sekarang gubuk, besok jadi istana. Belajar di sini dulu, biar bisa menggenggam dunia. Begitu semboyan semangat mendirikan sekolah ini,” kata guru berusia 45 tahun itu.

Di awal berdiri, MIS Tabek menerima 30 orang murid baru. Jumlah murid sebanyak itu tak berlangsung lama. Belakang siswanya berkurang menjadi 19 orang. Berkurangnya siswa disebabkan oleh beberapa alasan.

Ada yang pindah, ada yang kabur karena mengaku takut belajar di sekolah gubuk, reyot, dan masih dikelilingi semak.