Ali lantas menampilkan data tide gauge pada hari nahas, 22 Desember 2018, saat terjadi tsunami Selat Sunda. Terlihat pada jam-jam pertama, garis pengukur tide gauge datar-datar saja di angka 0 hingga 0,5 meter, tetapi pada pukul 14.00, tiba-tiba grafik gelombang mencelat ke angka 2 hingga 2,5 meter.
Sebuah skenario yang tak pernah terpikirkan oleh penjaga Ina-TEWS hari itu. Stasiun komputer pemroses gempa sunyi, DSS juga sunyi, TOAST juga sunyi, tapi tiba-tiba stasiun tide gauge menyalak. ”Ya, siapa yang tidak bingung, tidak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba gelombangnya dung! Jadi seperti itu,” kata Daryono sambil menunjuk layar komputer.
Selain ratusan monitor yang menampilkan data, ada satu sistem lagi yang tak kalah penting di ruang Ina-TEWS, yakni puluhan layar monitor yang menampilkan semua stasiun televisi nasional. Fungsinya tentu saja bukan hiburan. Saat gempa disusul tsunami terjadi, lalu lima stasiun komputer menjalankan tugasnya, petugas BMKG akan memperhatikan setiap stasiun televisi.
Daryono menjelaskan, sesuai aturan, saat tsunami terjadi, semua stasiun televisi wajib menghentikan siaran (stop press) saat itu juga dan langsung menyiarkan peringatan dini tsunami. ”Kalau tidak, kami catat (stasiun televisi) mana yang tidak stop press, kami laporkan ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia, Red) untuk langsung ditindak,” jelas Daryono.
Berhubung saat itu sedang tidak terjadi tsunami, monitor televisi di Ina-TEWS bisa digunakan untuk menonton berita maupun sinetron untuk mengusir kebosanan.
(*/c10/agm)






