Featured

Mengikuti Simulasi Peringatan Dini Tsunami di Ruang Komando Ina-TEWS

×

Mengikuti Simulasi Peringatan Dini Tsunami di Ruang Komando Ina-TEWS

Sebarkan artikel ini
FOTO TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS GARIS DEPAN : Kabid Gempa Bumi Dan Peringatan Dining Tsunami BMKG menunjukkan stasiun computer TOAST di pusat kendali INA-TEWs.

Dwi Hartanto, petugas di ruang Ina-TEWS, ditemani Kepala Bidang Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, menunjukkan kepada wartawan Jawa Pos tentang operasi sistem TOAST Senin (7/1). ”Silakan, mau gempa berapa, lokasinya di mana?” kata Dwi sambil menyiapkan jari-jarinya di atas papan ketik.

Saya lantas mengusulkan gempa berkekuatan 8,5 skala Richter (SR) dengan lokasi di daerah patahan di selatan Jawa Timur dan Bali. ”Ah tanggung, bagaimana kalau di zona megathrust?” usul Dwi.

bank BJB

Megathrust, mendengar namanya saja sudah bikin merinding. Gempa dahsyat itu sudah lama jadi mimpi buruk bagi masyarakat Indonesia. Kalau terbangun, skalanya bisa mencapai lebih dari 9,0 SR dan gempa-gempa raksasa tersebut bersemayam di zona subduksi di sepanjang Andaman, Pulau Sumatera bagian barat, dan Pulau Jawa bagian selatan.

Dwi pun mulai bekerja menginisiasi protokol ”bencana buatan” alias AI. Memasukkan data gempa dengan kekuatan 8,7 SR di zona Sunda megathrust yang terletak di selatan Selat Sunda. ”Kedalaman?” tanya Dwi kepada saya. ”10 kilometer,” jawab saya mantap. Namun, Dwi sedikit punya diskresi. Dia akhirnya memasukkan angka 15 kilometer. Lalu, menekan tombol ”initiate”. Tap!

Saya menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga,…lima detik kemudian, peta Indonesia dengan lautan birunya seketika berubah merah darah. Kawasan Selat Sunda terlihat mirip seperti luka sehabis ditusuk lembing. Area merah darah itu memanjang terus ke barat daya ratusan kilometer hingga separo Australia bagian barat. Daerah di luar ”cipratan darah” itu berwarna kuning, area di luarnya lagi berwarna hijau muda. ”Daerah merah, berarti ketinggian gelombang di atas 3 meter,” jelas Daryono.

Pantai-pantai di sekitar Selat Sunda pun tersaput noda merah. Jika dilihat dari pemetaan, air laut menusuk 10 hingga 15 kilometer jauh ke daratan. Taman Nasional Ujung Kulon dan Pulau Panaitan benar-benar tersapu habis. Kecamatan Sumur, Labuhan, kawasan Pantai Binuangeun di Wanasalam, Banten, pesisir Sukabumi, Garut, hingga Tasikmalaya. Terus ke Pangandaran, Cilacap, Pacitan, hingga Malang pun berpotensi dihantam gelombang tinggi di atas 3 meter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *