Featured

Liku-liku Perburuan Surat-surat Tokoh Pendiri Bangsa

×

Liku-liku Perburuan Surat-surat Tokoh Pendiri Bangsa

Sebarkan artikel ini

Tapi, dari surat yang dikirimkan Sjahrir kepada Maria Duchateau, istrinya, terungkap di Bovendigul pun dia kesepian. Dalam surat yang ditulis di Tanah Merah, 30 Mei 1935, itu, perdana menteri pertama Indonesia tersebut mengatakan, “Kehidupanku di antara orang buangan keadaannya jauh lebih berat daripada di dalam sel isolasi di penjara.”

Alasan Sjahrir kesepian: di tempat tersebut dia tidak dapat belajar. Satu-satunya yang dinanti Sjahrir adalah kedatangan kapal yang membawa surat dari istrinya. “…suratmu begitu sangat berarti buatku, aku harap kamu mampu menulisnya secara teratur kepadaku, supaya aku bisa menerima sesuatu setiap kali kapal datang berlabuh,” tulis Sjahrir.

Bank bjb Tandamata

Bonnie berharap pameran tersebut dapat mengenalkan generasi milenial pada para tokoh pendiri bangsa. Dia sekaligus mencontohkan agar generasi muda mau mencari sumber utama tiap kali menerima berita. Sehingga bisa terhindar dari hoax. “Harus berpikir secara historis, berpikir secara sebab musabab. Harus utuh dari berbagai sisi,” tuturnya.

Dari kedelapan tokoh yang surat-suratnya dipamerkan, surat-surat Soekarno termasuk yang paling sulit didapat. Kalaupun ada, rata-rata bermuatan politik dan diketik. Bukan ditulis tangan.

Padahal, untuk otentisitas, Ari dan Bonnie mencari surat-surat yang ditulis tangan, Dan isinya beragam, bukan hanya tentang politik. Ari mengaku sempat menanyakan langsung surat-surat presiden pertama Indonesia itu kepada sang putri Megawati Soekarnoputri. “Saya akhirnya dapat di Arsip Nasional (Republik Indonesia),” katanya.

Tingkat kesulitan mendapatkan surat-surat untuk tiap tokoh tidak sama. Tapi, yang tersulit rata-rata butuh tiga pekan. Setelah melalui proses sortir, ada total 25 surat tokoh yang akhirnya dipamerkan.

Salah satu yang tersortir adalah curhat Soekarno dengan Jawaharlal Nehru, perdana menteri pertama India. “Dalam surat itu Soekarno curhat bagaimana negaranya (Indonesia, Red),” cerita Ari.

Karena bermuatan politik, surat itu akhirnya tidak ikut dipamerkan. Dari yang ikut dipamerkan, Sukmawati, putri Soekarno lainnya, mengaku diberi tahu Bonnie siapa orang Belanda yang jadi teman gaul sang bapak. Sukmawati enggan menyebut nama lengkap orang tersebut. “Tapi, itu menunjukkan bahwa Soekarno bergaul dengan berbagai bangsa,” katanya.

Cerita lainnya datang dari kurator Aryono. Dia yang mengumpulkan surat-surat bersama Bonnie Triyana juga merasa mendapat kejutan. Menurut dia, selama ini diketahui bahwa RA Kartini berpandangan feminis. Dia menikah secara terpaksa karena dijodohkan orang tuanya. “Namun, ada satu surat yang menceritakan sosok keibuannya. Dia juga menceritakan bagaiman baiknya Djojoadhiningrat, bagaimana sayangnya kepada salah satu anak Djojo,” ucapnya.

…. Tunangan saya datang ke sini bulan lalu. Saya begitu terima kasih dan bahagia bahwa kami saling berbagi begitu banyak hal. Sekarang kehidupan saya akan bagus jadi bagus dan kaya atau miskin dan kering… Dia janji akan mendukung saya dengan kuat untuk usaha saya yang berguna untuk orang banyak… Surat RA Kartini kepada Rosa Manuela Abendanon (22 September 1903).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *