Featured

Liku-liku Perburuan Surat-surat Tokoh Pendiri Bangsa

×

Liku-liku Perburuan Surat-surat Tokoh Pendiri Bangsa

Sebarkan artikel ini

Ari menceritakan bahwa proses awal itu seperti menggambar peta. Mereka melihat para tokoh tersebut pernah berhubungan dengan siapa saja. Organisasi maupun pergerakan yang diikuti para tokoh dicatat. Lalu mereka mulai bergerak. “Cari dari keluarga dekat dulu,” ungkapnya.

Yang mereka cari adalah surat tulisan tangan dan menggambarkan pribadi para tokoh. Mereka ingin menceritakan bahwa tokoh pendiri bangsa ini juga manusia. Lengkap dari berbagai sisi.

Bank bjb Tandamata

Sayangnya, cara itu tak memuaskan mereka. “Banyak surat yang bermuatan politik,” imbuh pria asli Semarang tersebut.

Diberi tenggat hanya tiga bulan membuat kerja keduanya kudu ekstrakeras. “Seperti celeng kerjanya,” kata Ari, lantas tertawa.

Mereka kemudian mulai keluar. Bonnie yang bertugas ke Belanda dan mengontak sejarawan luar negeri. Di Indonesia, Ari menelusuri dari Arsip Nasional dan arsip keluarga ahli waris. “Saya ke tempat Bu Gemala Hatta. Awalnya boleh untuk memajang surat Bung Hatta, namun menjelang pameran tiba-tiba nggak boleh,” ucapnya.

Menurut Eddie Canbera sekarang sudah menjadi kota besar, penduduknya beberapa ratus ribu orang. Dua puluh tahun yang lalu Canbera masih satu kota kecil, penduduknya kira-kira 30 atau 40 ribu orang. Menurut Eddie Gemmala dengan dia juga makan di restoran Padang.

Menurut Eddie malahan ada 3. Mungkin hanya di bulan yang belum ada restoran Padang. Surat Mohammad Hatta kepada sang putri, Gemala (24 Juni 1974). Siapa bilang Mohammad Hatta sosok yang tak bisa guyon? Surat di atas yang ditulis untuk putri keduanya, Gemala Rabi’ah, itu menunjukkan bahwa sang proklamator juga pandai melempar canda.

Di Belanda, Bonnie antara lain mendatangi The International Institute of Social History (IISG) di Amsterdam dan Arsip Nasional Kerajaan Belanda. Bonnie juga mendapat surat Sjahrir dari sejarawan Sorbonne Prancis Kees Snoek.

“Dalam cerita Hatta di bukunya, Mengenang Sjahrir, diceritakan Sjahrir kesepian saat di Banda Neira. Lebih kesepian daripada saat dibuang ke Bovendigul. Namun ternyata tidak,” ungkap Bonnie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *