Featured

Konon Bisa Terbang, Alquran Warisan Maulana Malek Ibrahim

×

Konon Bisa Terbang, Alquran Warisan Maulana Malek Ibrahim

Sebarkan artikel ini

Sedangkan anak keduanya, yakni Abdusamad, memilih naik haji. Kembali ke Aceh, ia memilih untuk mengikuti jejak Syeh Maulana Malek Ibrahim, yakni menjadi Dai demi berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam secara meluas. Abdusamad pun memperoleh gelar sebutan Syeh (guru).

Berbekal Alquran peninggalan ayahnya, Syeh Abdusamad memulai menyebarkan Islam menyelusuri Aceh Timur, Aceh Utara, sampai menetap di Pidie. Ia berumah tangga dengan seorang gadis dan memperoleh keturunan bernama Cik Adam. Pondok pesantren bernama Babul Hasanah awal dibuka di kawasan Pidie.

Bank bjb Tandamata

Syeh Abdusamad pun meninggal di Tiro, Pidie. Anaknya, Tgk. Cik Adam kembali mengikuti jejak orang tuanya untuk menyebar Islam. Berbekal Alquran sepeninggalan kakeknya (Syeh Maulana Malek Ibrahim), melanjutkan dakwah.

Ia memilih menyebarkan Islam di pantai barat, melintasi Keumala, Tangse Geumpang, Tutut hingga ke Aceh Barat dan menetap di Desa Panton Reu (kini Desa Mugo Rayeuk).

Di situlah ia mendirikan pesantren kecil dinamakan Babul Hasana. Tgk Cik Adam berumah tangga dan dikaruniai lima orang anak; Tgk. Keumala, Tgk. Jambo Awe, Tgk. Dumba, Tgk. Hasyim, dan Tgk. Ahmad. Usia lanjut, membuat Tgk. Cik Adam menghembuskan nafas terakhir pada Abad ke -14 di Aceh Barat.

Aquran tersebut berada di Desa Mugo Rayeuk tanpa pernah dipindahkan dari tempatnya, yang kini dikenal sebutan rumah “Quran Panton Reu.”