Rasyim lantas memacu kapal itu dengan kecepatan 6 knot. Kecepatan penuh. Menuju utara. Ke arah ombak yang tidak terlalu tinggi atau yang diperkirakan sudah terpecah karena berada di ujung ombak. Di sebelah selatan gulungan ombak begitu tinggi. Berdasar pengalamannya, sebelah selatan juga lebih dangkal sehingga entakan ombak bisa sangat berbahaya.
Seluruh awak kapalnya siaga. Cemas, juga berdoa. Semua barang sudah diikat dengan kuat agar bila kena guncangan keras tidak mudah terempas. Rasyim ingat betul tinggi gelombang itu sekitar 30 meter. Kapal Baru Jaya dengan panjang 15 meter dan lebar 2,5 meter itu seolah mendaki untuk bisa melewati ombak tersebut.
Tinggi gelombang tsunami itu dua kali lipat dari panjang kapal tersebut. ”Kapalnya sampai berdiri tegak gini,” kata Rasyim sambil memperagakan tangan kanannya membuat sudut siku-siku. Seluruh anak buahnya pegangan erat pada apa pun. Dia tak terlalu ingat berapa lama ”pendakian” gelombang itu terjadi.
Selain pakai teknik pengendalian kapal, menurut Rasyim, ada keberuntungan yang menyertainya. Kapal itu bisa melewati ombak tinggi dan turun dengan cukup mulus. ”Kalau saya turun melewati bukit ombak dengan mengentak, hampir bisa dipastikan kapal itu akan pecah,” ujar dia.
Lepas dari ombak pertama, datang ombak kedua. Tingginya sekitar 15 meter. Kali ini cukup mudah bagi Rasyim dan kru untuk bisa melewati ombak tersebut. Datang lagi ombak ketiga dengan tinggi 10 meter.
Setelah tiga ombak besar tersebut, laut kembali tenang seperti semula. Setelah melewati masa-masa kritis itu, Rasyim pun menghubungi keluarganya di rumah. Dia disarankan untuk tidak pulang dulu. Sebab, kondisi di kampung Sidamukti juga porak-poranda oleh terjangan tsunami.




