Dengan didasari kesamaan misi untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi Indonesia. Setidaknya bisa menyamai atau bahkan mengungguli Singapura. ’’Untuk itu, profesor di Indonesia harus produktif (publikasi internasional, Red),’’ tegasnya.
Kebetulan, Irwandi sangat produktif menulis di jurnal ilmiah internasional. Dalam setahun, dia bisa memproduksi 10 publikasi ilmiah. Bahkan, pada 2017 sebanyak 34 judul karyanya termuat di berbagai jurnal internasional.Kebiasaan menulis, kata Irwandi, muncul karena dirinya sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan. Sebab, untuk bisa menjadi dosen di kampus asing, dia dibebani target publikasi dengan jumlah tertentu setiap tahun.
Jika tidak bisa mengejar target publikasi, kontraknya tidak bisa diperpanjang untuk tahun berikutnya. Menurut dia, kampus-kampus top di dunia sudah memiliki semacam unit pencarian yang bertugas menelusuri ilmuwan-ilmuwan produktif. ’’Jadi, seperti pemain bola. Dipinang klub sana-sini,’’ jelasnya.
Semasa remaja, dia mengaku gemar menulis cerpen. Ketika kuliah S-2 (master) jurusan Food Science and Biotechnology di Universiti Pertanian Malaysia pada 1994–1996, dia bahkan sempat menjadi koresponden sebuah tabloid olahraga nasional.
Dia pun berkesempatan mewawancarai beberapa olahragawan top dunia. Di antaranya, pesepak bola Ricardo Kaka. Juga petenis Roger Federer. ’’Sampai sekarang saya masih pegang kartu wartawan. Jadi, bisa bebas nonton F1 di Malaysia, hehehe,’’ ungkapnya.
Irwandi berpesan, selama ini kendala yang muncul dalam penulisan publikasi ilmiah adalah masalah bahasa. Untuk bisa dimuat dalam jurnal internasional, publikasi harus ditulis dalam bahasa Inggris. Bagi dia, selama bisa menulis dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, tidak perlu takut untuk menulis dalam bahasa Inggris.
Untuk urusan penerjemahan, tidak harus digarap sendiri. Bisa didiskusikan dengan sejawat dosen lain. Khususnya dosen yang menguasai bidang bahasa Inggris. ’’Seperti saya bilang tadi, kolaborasi itu penting,’’ katanya.
(*/c5/ttg)



