Selain itu, Irwandi melakukan riset produk halal di Korea Selatan. Dia mengungkapkan, Korea Selatan tidak mau kalah dari Jepang yang telah memulai pengembangan produk daging halal. Dan, dua negara bertetangga itu tidak mau kalah dari Australia. Negara di selatan Indonesia tersebut saat ini dilabeli produsen halal meat nomor satu di dunia.
Ilmuwan yang lulus program sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut menuturkan, gelar full profesor di kampus luar negeri didapatnya sebelum usianya genap 40 tahun. Dua tahun berselang, dia mendapat gelar profesor tipe B pada usia 42 tahun.
Peraih Habibie Award periode 2013 itu menjelaskan, gelar profesor di Malaysia terbagi dalam tiga tipe atau tingkat: profesor C, profesor B, dan profesor A. Sebagai warga asing, gelar profesor B itu sudah mentok. ’’Sebab, untuk profesor A, itu umumnya rektor (warga negara Malaysia, Red),’’ jelasnya.
Apresiasi atas kiprah Irwandi tersebut, antara lain, datang dari Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti. Menurut dia, penghargaan yang didapat Irwandi turut mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Penghargaan tersebut juga menjadi pengakuan keilmuan Irwandi. Sekaligus memperlihatkan sekali lagi bahwa negeri ini punya potensi sumber daya manusia yang melimpah. ’’Kehadiran profesor kelas dunia seperti Prof Irwandi dapat menjadi katalis,’’ katanya.
Bapak Uzma Nadhirah, Balqis Afifah, Ahmad Farabi, dan Omar Avicenna itu memang sudah berkolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI). Lagi-lagi terkait dengan produksi gelatin. ’’Bersama UI, saya melakukan riset gelatin dari kambing etawa,’’ jelas akademisi kelahiran Medan, Sumatera Utara, 20 Desember 1970, tersebut.
Bagi dia, Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia perlu mengembangkan gelatin halal. Dengan demikian, ke depan produksi obat dan makanan halal dalam negeri bisa didukung.Menurut Ali, kolaborasi dosen dalam negeri dengan diaspora profesor sangat penting.



