Hasilnya, perlahan banyak warga di wilayah di bertugas mau mengikuti program tersebut. Seiring berjalan waktu, pemahaman warga tentang vasektomi terus meningkat. Banyak warga yang sudah paham tentang vasektomi. Kerja Supandi otomatis jadi lebih ringan.
Setiap hari rata-rata ada dua hingga tiga orang yang dia antar ke dokter untuk mengikuti program tersebut. Jumlahnya terus bertambah. “Saat ini sudah lebih dari 5.200 orang yang mengikuti program tersebut,” ucapnya.
Perjuangan tak kalah gigihnya juga ditunjukkan Sertu Eko Wahyudi. Personel Koramil Panarukan itu bersama warga Desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, mengubah sistem peternakan dan pertanian tradisional ke modern. “Saya manfaatkan limbah keduanya,” ungkap dia.
Lelaki yang menjadi anggota TNI-AD sejak 2000 itu memanfaatkan limbah pertanian untuk pakan ternak dan limbah ternak untuk pupuk pertanian. Yang mulai dia jalani empat tahun lalu.
Semua bermula dari keprihatinannya melihat petani dan peternak di Desa Sumber Kolak yang masih tradisional. Di matanya, cara tradisional itu tidak menguntungkan peternak. Produk ternak tidak meningkat. “Sebaliknya, banyak ternak yang dijual karena pemiliknya butuh uang,” ucapnya.
Eko yang di masa remaja pernah menggembala sapi itu pun mulai membantu mencari solusi. Dia mengontak dua temannya, Agung dan Anang, yang kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember. “Saya ajak mereka untuk membuat konsep pertanian dan peternakan modern,” kata dia.



