Featured

Dulu Berhadapan di Konflik Ambon, Kini Bergandengan Kampanyekan Perdamaian

×

Dulu Berhadapan di Konflik Ambon, Kini Bergandengan Kampanyekan Perdamaian

Sebarkan artikel ini

Melalui wadah seni dan budaya, Iskandar dan Ronald tak menyangka bahwa virus perdamaian tersebar dengan sangat cepat. Satu per satu kelompok anak muda dari berbagai kampung dan agama berdatangan untuk bergabung dalam komunitas.

Secercah harapan yang bernama perdamaian itu mulai muncul setelah ada Piagam Malino II pada 2002. Dua kombatan muda tersebut bertemu dengan Jacky Manuputty, salah seorang pendeta yang datang ke Ambon untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak yang terlibat konflik.

Bank bjb Tandamata

Saat itu Jacky yang sering bekerja sama dengan PBB dan Unicef giat menggelar forum-forum yang mempertemukan anak muda muslim dan Kristen. Pertemuan tak dilakukan di Ambon. Anak-anak tersebut dibawa ke kota lain seperti Jogjakarta dan Jakarta, bahkan ke negara Filipina, untuk bertemu dengan psikolog dan pendamping ahli lain. Tentu tidak melalui proses yang pendek dan mudah.

Kini Paparisa Ambon Bergerak hampir setiap minggu memiliki berbagai aktivitas. Di antaranya, yang paling sering seperti kelas sastra, public speaking, sejarah, kewirausahaan, dan musik. ”Paparisa ingin membiasakan seluruh elemen muda Kota Ambon bertemu, duduk bersama, agar kerusuhan yang terjadi di masa lalu tak terulang,” ujar Ronald.

Karena gigihnya perjuangan Ronald dan Iskandar, foto mereka berdua sampai pernah dipasang di jalan masuk salah satu kampung tempat komunitas menggelar acara. ”Foto itu dipasang sebagai bentuk apresiasi kepada kami yang disebut sebagai ikon perdamaian anak muda di Ambon. Lucunya, baliho yang berisi foto kami berdua lebih besar daripada foto calon gubernur yang ada di sebelahnya, hahaha,” ucap Iskandar, berkelakar.

 

(*/c11/ttg)