Featured

Dulu Berhadapan di Konflik Ambon, Kini Bergandengan Kampanyekan Perdamaian

×

Dulu Berhadapan di Konflik Ambon, Kini Bergandengan Kampanyekan Perdamaian

Sebarkan artikel ini

Ronald lebih sering bercanda, sementara Iskandar cenderung lebih dewasa dan pendiam. Sekilas, jika melihat kebersamaan mereka berdua, tak ada yang menyangka bahwa keduanya pernah terlibat kebencian. Sebab, yang tampak adalah keakraban layaknya dua anak muda yang bersahabat sejak kecil.

Padahal, dulu keduanya bersama kelompok masing-masing berhadapan sembari menghunus senjata. Iskandar ingat benar bagaimana amarah itu bermula. Di usia masih 13 tahun, saat Idul Fitri 1999, seorang pemuka muslim tewas dipanah. Beberapa waktu kemudian, Iskandar juga mendengar kabar bahwa kaki kakak perempuannya hancur karena serangan bom dan sepupunya meninggal gara-gara terlibat konflik.

Bank bjb Tandamata

Namun, di waktu yang bersamaan, Ronald yang baru berusia 10 tahun juga tak kalah muntab. Keluarga besarnya di kampung dibantai. Ibu dan adiknya memang berhasil mengungsi ke Manado, Sulawesi Utara. Namun, dia terjebak di medan konflik di Ambon.

Konflik di Ambon terus bergulir sampai sekitar 2002. Perang tersebut menelan korban lebih dari 5.000 orang dan lebih dari 0,5 juta masyarakat mengungsi ke sebagian besar Kepulauan Maluku. Iskandar maupun Ronald sebelumnya sudah berpikir bahwa hidup mereka akan dihabiskan dengan perang. Juga, mungkin kehilangan nyawa dalam kecamuk berdarah itu.

Namun, forum perdamaian di Jogjakarta 12 tahun silam itu akhirnya berhasil mengubur dendam dan amarah tersebut. Sepulang dari Jogjakarta, Ronald dan Iskandar kembali ke kampung halaman dengan hati yang lebih damai. Dari sebelumnya bermusuhan, mereka berdua justru ganti bergandengan mengampanyekan perdamaian di kalangan anak-anak muda.

Ronald mengaku memberanikan diri untuk berkunjung seorang diri ke kampung muslim sepulang dari Jogjakarta. Menemui Iskandar dan rekan-rekan lainnya. ”Mengharukan sekali. Saya datang ke kampung yang dulu saya datang untuk berperang, tapi saat itu datang untuk bakar-bakar ikan, lalu makan ramai-ramai,” kenang Ronald.