Featured

Dulu Berhadapan di Konflik Ambon, Kini Bergandengan Kampanyekan Perdamaian

×

Dulu Berhadapan di Konflik Ambon, Kini Bergandengan Kampanyekan Perdamaian

Sebarkan artikel ini

RADARSUKABUMI.com – Lewat komunitas seni dan budaya yang mereka dirikan, Iskandar Slameth dan Ronald Regan menggelorakan semangat perdamaian mulai kota hingga pedalaman. Ada kelas sastra, musik, sejarah, kewirausahaan, sampai public speaking.

AGFI SAGITTIAN, Ambon

Bank bjb Tandamata

HANYA ada secarik kertas dan pena di hadapan puluhan orang di ruangan itu. Suasana temaram. Hanya cahaya lilin yang menerangi. Di kertas itu, mereka semua, yang terbagi dalam dua kelompok, muslim dan Kristen, diminta untuk menumpahkan semua rasa benci dan dendam. Segala kemarahan muara dari konflik sektarian panjang sejak akhir 1990-an di kampung halaman mereka di Ambon, Maluku.

Namun, di tengah keheningan, tiba-tiba Ronald Regan si komandan pasukan Agas –sebutan untuk tentara anak Kristen– tiba-tiba bangkit. ”Kita paling sayang kamu semua. Kita semua bersaudara,” katanya.

Dengan segera ketegangan di antara dua kelompok itu lebur. Semua yang ada di ruangan sebuah gedung di Jogjakarta pada 2006 tersebut menangis. Iskandar Slameth, pentolan di pasukan Jihadis Mini –sebutan untuk tentara anak muslim–, dengan segera memeluk Ronald. ”Hari ini sampai kapan pun kita saudara. Kamu mau pergi ke mana pun, beta akan di depan kamu,” katanya.

Semua itu diceritakan oleh Ronald dan Iskandar dengan penuh kehangatan dalam perbincangan dengan Jawa Pos di Ambon dan Pantai Ora, Maluku Tengah, pertengahan November lalu. Tiap kali diwawancarai, Ronald dan Iskandar duduk berdampingan. Di depan mereka, selalu ada dua bungkus rokok. Selama wawancara, keduanya silih berganti membakar ujung lintingan tembakau tersebut.

Interaksi dua sahabat itu begitu hangat. Mereka saling melempar tawa. Lucunya, tak jarang Ronald menyapa Iskandar dengan panggilan ”Beb”. ”Tapi, kalau lagi ada cewek cantik, jangan panggil Beb lah, nanti dikira kita pacaran,” ujar Ronald, berkelakar.