SUKABUMI — Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) RI, Mukhtarudin, menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam penempatan tenaga kerja Indonesia. Ia mendorong agar pekerja migran tidak lagi hanya mengisi sektor informal, tetapi diarahkan ke sektor formal dan profesional dengan keterampilan yang lebih tinggi.
“Pekerja migran Indonesia harus dipersiapkan untuk mengisi sektor medium dan high skill, seperti industri, manufaktur, kesehatan, dan sektor profesional lainnya,” ujar Mukhtarudin saat membuka Pasim Go International Job Fair 2026 di Kampus Universitas Nasional Pasim, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Senin (27/7).
Menurutnya, peluang kerja internasional terbuka luas di Jepang, Jerman, Eropa, Malaysia, hingga Timur Tengah. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan peningkatan kompetensi agar pekerja migran mampu bersaing dan mendapatkan pekerjaan layak.
Mukhtarudin juga menyoroti persoalan biaya yang kerap membebani calon pekerja migran. Pemerintah, katanya, tengah menyiapkan skema pembiayaan melalui program pelatihan, dukungan perbankan, hingga koperasi. “Jangan sampai masyarakat terbebani biaya besar atau bunga tinggi. Pemerintah membangun ekosistem agar prosesnya aman, mudah, murah, dan terlindungi,” tegasnya.
Untuk periode 2026–2029, pemerintah menyiapkan program pembiayaan pelatihan dengan kuota tertentu, khususnya di Jawa Barat melalui kolaborasi BP3MI, pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi. Ia juga menilai keberadaan Migrant Center di Universitas Pasim sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem pekerja migran dari hulu hingga hilir, mulai dari edukasi, peningkatan kompetensi, informasi peluang kerja, hingga perlindungan.




